Unsyiah dan IPB Sepakat Kerja Sama Bidang Pertanian Jalin MoU dengan 3 Kabupaten di Aceh

10.04.2015 Humas

Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Institut Pertanian Bogor menjalin kerja sama dengan tiga kabupaten di Aceh dalam bidang pertanian. Ketiga Kabupaten tersebut adalah Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya. Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dilakukan oleh Rektor Unsyiah, Rektor IPB, Wakil Bupati dan Sekretaris Daerah dari ketiga kabupaten tersebut. Acara ini berlangsung di Balai Senat Unsyiah, Jumat (10/4) dan dihadiri oleh civitas akademika Unsyiah serta Kepala Dinas Perairan dan Ketahanan Pangan Aceh.

Dalam sambutannya, Rektor Unsyiah, Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng., mengatakan bahwa persoalan dalam hal pertanian di Indonesia masih sangat rumit. Swasembada pangan masih sangat minim, sampai hari ini Indonesia bahkan belum bisa memberikan swasembada beras dan gula. Hal tersebut sangat disayangkan jika mengingat luas lahan kita yang sangat besar.

“Dengan luas lahan yang kita miliki, mestinya kita bisa lebih baik dari ini,” ujarnya.

Rektor IPB, Prof. Herry, juga memaparkan, dilema yang terjadi di Indonesia saat ini adalah ketidakseimbangan antara peningkatan jumlah penduduk dan konversi lahan yang semakin banyak. Menurutnya, pertama Indonesia harus melakukan pencegahan konversi lahan persawahan menjadi pemukiman, perkantoran, maupun jalan raya serta mengurangi konsumsi barang impor.

“Mari kita membangun sumber produksi pangan yang mandiri dan tangguh, jangan lagi tergantung kepada pangan impor,” ajak Herry.

Selain itu, Samsul mengharapkan, mahasiswa yang kuliah di Pertanian benar-benar mencintai ilmu tentang pertanian dan memiliki cita-cita menjadi petani yang modern, jangan hanya ingin menjadi PNS. Samsul menambahkan, Unsyiah juga akan membangun sebuah rumah kaca yang modern sebagai fasilitas untuk mahasiswa Fakultas Pertanian sehingga mahasiswa lebih bersemangat dan tergerak untuk belajar.

Hal serupa juga disampaikan oleh Prof. Herry. Menurutnya, yang harus kita lakukan adalah mengajak mahasiswa untuk mencintai pertanian secara konsisten. Selama ini mahasiswa sering terjebak dalam pandangan sepintas bahwa kuliah di Pertanian tidak menjanjikan. Hal itulah yang harus dikoreksi dengan cara memberikan pemahaman kepada mahasiswa dan calon mahasiswa bahwa persoalan pangan adalah satu dari tiga ancaman masa depan manusia, yaitu krisis pangan, krisis energi dan krisis lingkungan.

“Pertanian adalah jawaban dari semuanya. Jika pertanian dikelola dengan baik dan menghasilkan pangan yang optimal, aspek lainnya juga akan teratasi perlahan,” paparnya.

Sementara itu, Samsul juga mengaku sangat senang bisa bekerja sama dengan IPB dan tiga daerah yang terkenal dengan potensi pertaniannya. Aceh Utara dan Pidie memiliki lahan pertanian yang sangat luas, terutama Pidie yang terkenal sebagai daerah penghasil pangan, begitu juga dengan Pidie Jaya yang terkenal dengan lahan cokelatnya yang mencapai 12.000 hektar. Jika dikelola dengan baik, Aceh Utara dan Pidie dapat menjadi lahan swasembada padi terbaik di Aceh. Samsul optimis, apabila kerja sama ini direalisasikan dengan baik, mereka bisa meningkatkan kemakmuran masyarakat Aceh.

Hal itu disambut baik oleh Wakil Bupati Aceh Utara, M. Jamil, M.Kes.; Sekda Pidie, H. Teuku Anwar ZA, M.Si.; dan Wakil Bupati Pidie Jaya, Sayed Mulyadi. Mereka mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tentang teknologi dan pertanian yang dimiliki pemerintah daerah selama ini masih kurang. Karena itu mereka mengharapkan bimbingan serta pembinaan dari kampus Unsyiah dan IPB terkait pengelolaan lahan pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan. Mereka berharap MoU ini dapat dijalankan dengan optimal supaya bisa meningkatkan ketahanan pangan di Aceh.

Setelah penandatanganan MoU usai, acara dilanjutkan dengan kuliah umum oleh Rektor IPB, Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc., dengan tema “Pembangunan Pertanian dan Pengarusutamaan Pertanian Indonesia”.(un)