Mobil Hemat Energi, Indonesia Dominasi “Urban Concept”

14.03.2018 Humas

Singapura, Kompas – Mahasiswa Indonesia mendominasi kategori urban concept dalam kompetisi rancang bangun mobil masa depan hemat energy Shell Eco-marathon Asia 2018 di Singapura.  Sesuai hasil jelajah lintasan kategori urban concept yang selesai pada Sabtu (10/3) di Changi Exhibition Centre, Indonesia terlalu kuat di subkategori sumber energi pembakaran dalam mesin dan beterai elektrik.

Di subkategori pembakaran dalam mesin (ICE), Indonesia menguasai urutan 1-5.  Terunggul ialah mobil Sapuangin ITS Team 2 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember dengan capaian 315 km/l bensin. Disusul, mobil Semar Urban UGM Indonesia dari Universitas Gadjah Mada (267 km/l bensin), mobil Garuda UNY Eco Team dari Universitas Negeri Yogyakarta (215 km/l bensin), mobil Sadewa dari Universitas Indonesia (205 km/l bensin), dan mobil Begawan Team 2 dari Universitas Negeri Sebelas Maret (170 km/l bensin), seperti dilaporkan wartawan Kompas, Ambrosius Harto, dari Singapura, kemarin.

Urban concept ialah kategori lomba mobil terhemat dengan desain mendekati mobil terkini. Mesin yang dipakai biasanya sepeda motor atau traktor karena komsumsi bahan bakat terhemat di antara jenis kendaraan umum. Di subkategori ICE ini bahan bakar yang boleh dipakai adalah bensin, solar, entanol, dan gas alam cair. Dari hasil lomba ini terbukti mesin bensin sepeda motor paling sesuai untuk rancang bangun mobil terhemat.

Di subkategori beterai elektrik, tim Indonesia menempati urutan 2-4 di lima besar. Terunggul ialah mobil LH-EST dari Lac Hong University di Vietnam dengan capaian 129 km/kWh. Selanjutnya, mobil Nogogeni ITS Team 1 (125 km/kWh), mobil Bumi Siliwangi Team 4 dari Universitas Pendidikan Indonesia (108 km/kWh), mobil Apatte 62 Team dari Universitas Brawijaya (93 km/kWh), dan mobil Kookmin Racing dari Kookmin University dari Korea Selatan (93 km/kWh).

Urutan keenam menjadi milik mobil Nakoela dari UI (88 km/kWh). Indonesia masih menempatkan tim di posisi kedelapan, yakni mobil Malem Diwa Urban dari Universitas Syiah Kuala (57 km/kWh) dan posisi kesembilan mobil Genetro Suryo dari Universitas Muhammadiyah Malang (52 km/kWh). Apresiasi patut diberikan kepada Unsyiah karena ini merupakan keikutsertaan pertama kali di kompetisi tahunan yang telah diselenggarakan sejak 2010 itu.

Debutan lain ialah mobil Moran Team 3 dari Universitas Lampung yang ikut di subkategori ICE dengan sumber energy bensin. Di jelajah lintasan, Moran Team 3 menempati urutan ke-13 dari 18 mobil dengan capaian 97 km/l bensin. Debutan lain ialah mobil mesin Universitas Muhammadiyah Pontianak dengan sumber energi bensin.

Presiden Direktur Shell Indonesia Darwin Silalahi menilai, kedepan mahasiswan di Indonesia harus berani melebarakn sayap mendominasi subkategor lain. “Ini bukan hanya kebanggaan, melainkan bukti capaian akademis kampus teknik kita. Harapannya, ada yang juara dunia DWC seperti 2016,” ujarnya.

General Manager Shell Eco-marathon Norman Koch mengatakan, bagi negara lain, dominasi Indonesia akan terasa menjengkelkan, Namun, upaya tim lain meruntuhkan dominasi suatu negara akan melahirkan kompetisi yang menarik sejauh jalan yang ditempuh tidak melanggar aturan. “Ini adalah perayaan ide dan inovasi. Jika seluruh subkategori diikuti, itu juga akan terlihat baik bagi wajah akademik negara (Indonesia),” katanya. (BRO)

 

Referensi Kompas