Psikologi FK Unsyiah Cegah Depresi Ibu Melalui Modul “Kenal Ibu”

13.05.2018 Humas

Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala bekerjasama dengan Universitas Airlangga, melaksanakan pelatihan untuk mencegah depresi para ibu kepada bidan dan kader kesehatan dengan mengenalkan modul “Kenal Ibu”. Kegiatan ini dilaksanakan mulai tanggal 9 – 12  Mei 2018 di Gedung CMHS Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Unsyiah, Banda Aceh.

Ketua tim project pelatihan, Susy K Sebayang, PhD mengatakan Kegiatan ini didukung oleh Lentera Kaji, dan juga oleh Pemerintah Australia melalui Alumni Grant Scheme yang diadministrasikan oleh Australia Award in Indonesia.

Dalam kegiatan ini dikembangkan modul pelatihan dan buku pegangan konsultasi lapangan yang dapat digunakan oleh bidan dan kader kesehatan dalam pekerjaan mereka di lapangan.  Modul serta buku pegangan ini diberi nama KENAL IBU, akronim dari Kesehatan Mental Ibu Hamil dan Menyusui, yang isinya disesuaikan dengan bahasa yang berbeda di Banda Aceh dan Banyuwangi. Sehingga terdapat alat ukur dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, Madura, Osing dan Aceh. 

 Kegiatan ini menjadi yang pertama di Indonesia, yang menunjukkan bahwa perawatan rutin sebelum dan sesudah melahirkan, dapat memberikan dukungan untuk ibu hamil dan menyusui tidak hanya untuk kesehatan fisik, namun juga kesehatan mental.

“Maka kami berharap agar metode deteksi dan sistem rujukan yang diberikan saat pelatihan ini dapat diadopsi oleh pemerintah daerah secara berkelanjutan,” ujar Susy.

Susy mengungkapkan, bahwa pelatihan ini bertujuan untuk membangun kapasitas bidan dan kader kesehatan untuk menskrining atau mendeteksi ibu hamil dan menyusui, dengan masalah depresi peripartum dan memberi mereka dukungan yang diperlukan. 

Pelatihan deteksi dini kesehatan mental ibu hamil dan menyusui ini dilaksanakan secara paralel di dua kota, yakni Banyuwangi dan Banda Aceh. Pelatihan KENAL IBU tahap pertama ditujukan untuk para kader kesehatan, dilanjutkan dengan tahap kedua kepada para bidan di Banda Aceh.

Sebanyak  7 bidan, dan 38 kader di Banda Aceh berpartisipasi dalam pelatihan ini.  Selain kegiatan interaktif dengan mengikuti buku panduan KENAL IBU, materi pelatihan difasilitasi oleh beberapa ahli, yaitu: psikolog Dr. Marty Mawarpury dan Maya Khairani, M.Psi dari Prodi Psikologi Unsyiah dan anak serta dua fasilitator dari PSDKU Universitas Airlangga, Banyuwangi—Dr. Susy K Sebayang dan Desak Shinta, M.Kes. 

Menurut Susy pelatihan seperti ini sangat penting. Sebab menurut hasil survei tim peneliti Program Studi Kesehatan Masyarakat, PSDKU Universitas Airlangga (Unair) di Banyuwangi di tahun 2016 menemukan sebanyak 26% perempuan di pesisir Banyuwangi memiliki masalah mental-emosional.

Sementara penelitian lainnya menunjukkan sebesar 15% perempuan di daerah perkotaan di Indonesia memiliki gejala depresi. Kedua riset tersebut menemukan fakta gejala kesehatan mental terkonsentrasi pada kelompok perempuan denganekonomi rendah.

Studi-studi ini menegaskan adanya beban kesehatan mental yang lebih besar pada perempuan Indonesia.  Jika terjadi selama kehamilan dan menyusui, masalah kesehatan mental pada perempuan dapat menyebabkan kesehatan fisik yang buruk bagi ibu dan anak.

Ibu dapat mengabaikan anak, baik karena kekurangan penyediaan makanan bergizi, dan juga karena berkurangnya kualitas perawatan anak dan stimulasi yang diberikan pada anak. Hal ini menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah, stunting (tubuh pendek), infeksi, gangguan fungsi kognitif bahkan kematian.

“Sementara perawatan antenatal dan setelah persalinan di Indonesia selama ini hanya dalam bentuk perawatan fisik, dan tidak termasuk perawatan kesehatan mental yang sebenarnya sangat dibutuhkan,” jelasnya.

Hasil dari evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa peserta pelatihan merasakan manfaat besar dari pelatihan ini, khususnya karena sebagian besar dari mereka belum terlalu paham tentang kesehatan mental ibu hamil dan menyusui dan informasi lengkapnya baru mereka dapatkan melalui penelitian ini.

Para peserta pelatihan pun berharapagar pelatihan seperti ini dapat terus diberikan bukan hanya sekali. Selain itu, mereka juga berharap agar ke depan, materi pelatihan juga bisa melibatkan para suami atau anggota keluarga lainnya agar dapat berpartisipasi membantu mereka dalam menghadapi depresi peripartum pada ibu hamil dan menyusui.

Hampir semua peserta memiliki komitmen kuat untuk coba menerapkan ilmu dan keahlian yang mereka miliki di wilayah kerja Puskesmas mereka. Salah satunya, Bidan Hera dan Eva yang mewakili para bidan dari Puskesma Kopelma Darussalam Banda Aceh, menyebutkan,

“Kami berencana akan mensosialisasikan hasil pelatihan ini kepada semua pegawai Puskesmas termasuk berbagi ilmu yang didapatkan selama pelatihan dengan perawat jiwa di Puskesmas. Selain itu, kami akan menerapkan skrining yang telah kami pelajari di pelatihan ini pada ibu hamil dan menyusui di wilayah kerja kami.”

Peserta pelatihan juga berharap suatu saat mereka mendapatkan kesempatan melakukan studi banding ke berbagai Puskesmas di Banyuwangi yang telah lebih dahulu menerapkan kegiatan skrining atau deteksi KENAL IBU.

Setelah pelatihan deteksi KENAL IBU di Banda Aceh untuk bidan dan kader di Banda Aceh, keseluruhan pelatihan yang telah dilaksanakan di dua kota ini—Banyuwangi dan Banda Aceh, nantinya akan dievaluasi setelah dua bulan untuk menilai seberapa baik bidan dan kader kesehatan menyerap pengetahuan baru ini dan menerapkannya dalam layanan perawatan rutin antenatal dan postnatal.