Unsyiah Serahkan Rumah Ramah Gempa untuk Pijay

16.02.2017 Humas

Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menyerahkan rumah ramah gempa untuk korban gempa di Desa Paro Keude, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya (Pijay). Rumah bantuan tersebut diserahkan Rektor Unsyiah, Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng kepada warga korban gempa yang bernama M Hasan Ahmad dan disaksikan Bupati Pijay Aiyub Abbas, dan Wakil Bupati Pijay, Said Mulyadi, Selasa (14/2).

“Rumah yang diberikan hanya 1 unit sebagai rumah contoh yang memenuhi standar untuk provinsi Aceh yang memang rawan terhadap gempa,” ujar Rektor Unsyiah.

Ia menjelaskan, rumah ramah gempa ini merupakan rumah yang dibuat oleh peneliti dari Fakultas Teknik Unsyiah dengan konsep rumah yang adaptif terhadap gempa. Setiap kabupaten/kota di Aceh memiliki rumah dhuafa, namun kualitasnya sangat tergantung kepada kemampuan kontraktor yang membangunnya. Oleh sebab itu, Unsyiah mencoba untuk menawarkan konsep rumah yang standar dengan karakteristik utamanya adalah adaptif terhadap gempa.

“Ya mudah-mudahan rumah ini bisa digunakan dan sebagai bentuk pengabdian Unsyiah terhadap masyarakat,” kata Prof Samsul.

Satu Unit Rumah Rp 70 juta

Ketua Tim Peneliti Rumah Ramah Gempa Unsyiah, Dr Ir Abdullah MSc mengungkapkan, biaya pembuatan 1 unit rumah ramah gempa Unsyiah adalah Rp 70-85 juta. Besaran rumah ini sangat tergantung dari bahan finishing-nya.

“Alasan kami menamainya rumah ramah gempa karena supaya tak terkesan sombong. Jika menyebutnya rumah tahan gempa terkesan sombong, karena kekuatan Allah Swt tentu tak mampu ditandingi oleh siapapun,” jelasnya.

Abdullah memaparkan, rumah ramah gempa ini memang memiliki spesifikasi tersendiri, yaitu bahannya berasal dari beton ringan. Kemudian luas lantainya 36 meter. Sedangkan atap dan rangka rumah terbuat dari baja ringan. Setiap komponen disambung dengan baut seperti sambungan antara dinding ke kolom atau kolom ke balok.

“Kami melihat rumah-rumah yang rubuh itu masalahnya ada pada sambungan. Kami yakin rumah  ini insyaallah aman dari gempa, kecuali bautnya putus,” paparnya.

Disebutkan, Pemkab Pijay sebenarnya tertarik dengan konsep rumah Unsyiah ini. Apalagi Pemkab Pijay berencana membangun 1.000 lebih unit rumah untuk korban gempa dengan konsep rumah dari Unsyiah. Namun dana yang dianggarkan Pemkab Pijay hanya sebesar Rp 40 juta per unit rumah. Jadi pihak Unsyiah harus menghitung ulang agar jumlah dana tersebut bisa disesuaikan. Apabila ada bagian-bagian yang tidak prioritas, maka bisa dihilangkan, seperti lantai yang tidak perlu menggunakan keramik atau pengecatan rumah yang bisa dikerjakan masyarakat.

“Dengan begitu biaya pembangunan rumah bisa diturunkan. Jadi inilah yang coba kita hitung kembali, apa yang harus dihilangkan sehingga cukuplah dana Rp 40 juta untuk 1 unit rumah,” pungkas Abdullah.

Sementara itu, Bupati Pijay sangat mengapresiasi keterlibatan Unsyiah dalam membantu korban gempa selama ini, baik itu pascagempa maupun saat masa pemulihan. Ia juga mengapresiasi konsep rumah yang ditawarkan Unsyiah. 

“Konsep rumah ramah gempa Unsyiah ini akan menjadi rujukan Pemkab Pijay untuk membangun rumah korban gempa lainya nanti,” sebutnya.

 

Penulis : Ibnu Syahri Ramadhan

Editor  : Reza Fahlevi