BEM FK Unsyiah Gelar Diskusi Daring dengan Tim Medis

24.04.2020 Humas

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala menggelar National Online Public Discussion melalui aplikasi Zoom Meeting, Rabu (22/4/2020). Kegiatan ini juga disiarkan secara langsung melalui Youtube chanel Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI).

Kegiatan yang bekerja sama dengan PB IDI, IDI Cabang Banda Aceh, HMI Komisariat FK Unsyiah, dan ISMKI Nasional ini, mengangkat tema Covidpedia: Garda Terdepan Berbicara. Hadir sebagai pembicara dr. Daeng M. Faqih, S.H., M.H. (Ketua PB IDI), Dr. dr. Azharuddin, Sp.OT, K-Spine.FICS (Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia Provinsi Aceh), dan dr. Listya Paramita, Sp.KK (Medical Influencer). Diskusi ini turut dimeriahkan musisi nasional Rahmania Astrini dan dimoderatori Sekretaris Jenderal BEM FK Unsyiah, M. Aidil Faraby.

Ketua BEM FK Unsyiah, Rais Maulana berharap kegiatan ini dapat menjadi media informasi bagi masyarakat tentang perkembangan pandemi Covid-19 langsung dari garda terdepan, yaitu tenaga medis.

Dalam kesempatan ini dr. Daeng M. Faqih, S.H, M.H menyampaikan bahwa Indonesia sedang mengalami peningkatan angka ODP dan PDP secara drastis hingga mencapai angka ±196.000 jiwa. Ia meminta agar pemerintah menyanggupi kebutuhan pemeriksaan testing secara massal, cepat, dan luas hingga 10 ribu orang per hari. Saat ini pemerintah hanya mampu melakukan test  sekitar 1.000 orang per hari dengan jumlah yang telah diperiksa sekitar 46 ribu. Maka jumlah PDP dan ODP yang belum diperiksa sekitar 150.000 orang dan ini membutuhkan waktu sekitar 150 hari.

“Jika pemerintah menyanggupi sampai dengan testing massal 10 ribu per hari, maka efektivitas waktu terpangkas dari 150 hari menjadi 15 hari saja. Inilah mengapa permintaan ini sangat diharapkan untuk dipenuhi,” ujar dr. Daeng.

Ia meminta agar PCR sebagai golden standart yang beroperasi di Indonesia diperbanyak. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk kooperatif ketika diminta penjelasan dari tenaga medis dan memaksimalkan fasilitas konsultasi jarak jauh.

“Kita juga mengimbau untuk tetap di rumah saja. Sebab sekali kita keluar rumah, kita tidak tahu di mana kita tertular dan dikhawatirkan dapat menularkannya ke orang-orang yang ada di rumah.”

Selanjutnya, dr. Listya Paramita, Sp.KK menyampaikan pentingnya tindakan preventif seperti PHBS dan social distancing. Kepedulian sosial terhadap tetangga di lingkungan juga harus diperhatikan. Terkait efektivitas rapid test, ia menyampaikan meski tidak bisa menjadi pedoman penegak diagnosis, rapid test sangat efektif dilakukan sebagai media screening awal untuk memetakan pola mata rantai penyebaran. Jika hasil positif, maka dapat dilanjutkan dengan test swab PCR.

Mengenai kondisi di Aceh Dr. dr. Azharuddin, Sp.OT, K-Spine.FICS menyampaikan bahwa Aceh telah mendapatkan 15.000 rapid test untuk didistribusikan secara tepat oleh Dinas Kesehatan ke 23 kabupaten/kota. Namun ia mengakui bahwa jumlah tersebut masih jauh dari angka yang memadai. Ia mencontohkan seperti RSUDZA yang memiliki 3.000 karyawan, tetapi hanya 200-an saja yang dapat melakukan rapid test. dr. Azhar juga mengajak masyarakat untuk tidak pernah bosan mengedukasi lingkungan sekitarnya dalam hal memutus rantai penyebaran virus corona.