Cegah PMK, Mahasiswa FKH USK Adakan Seminar dan Workshop

10.06.2022 Humas

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Syiah Kuala (USK) melaksanakan workshop dan seminar mengenai Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan (sapi). Kegiatan yang digagas oleh Departemen Kajian Strategis ini diikuti 138 mahasiswa pada saat hendak melaksanakan KKN, 29 Mei 2022.

Latar belakang terselenggaranya kegiatan ini adalah adanya kasus PMK yang pertama kali setelah beberapa dekade tidak ditemukan. Adanya wabah PMK di Aceh tersebut, BEM FKH USK melalui Departemen Kajian Strategis tergerak untuk membantu pemerintah dalam menanggulanginya.

Selain mengadakan workshop dan seminar, BEM FKH USK gencar melakukan kampanye di media sosial dengan kajian-kajian dan sumber terpercaya, dalam rangka mensosialisasikan PMK untuk mengenal lebih dalam serta cara menanggulanginya. Kemudian, untuk memacu semangat mahasiswa/i FKH USK dalam wabah PMK, BEM FKH USK turut membuat kuis yang berjudul quistrat, yang berisikan seputar PMK.

Ketua BEM FKH USK, Ghali Fathan Algifari Hasibuan mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk respon cepat dalam penanganan PMK di wilayah Aceh, dimana FKH USK sendiri merupakan Fakultas Kedokteran Hewan satu-satunya di wilayah Sumatera.

"Tentunya dalam penanggulangan kasus ini, tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, tetapi kami sebagai mahasiswa yang menjunjung tinggi nilai tri dharma perguruan tinggi khususnya pengabdian, ingin berbuat. Dengan begitu, peran mahasiswa bermanfaat dalam mengedukasi masyarakat," ujarnya.



Adapun pemateri dalam kegiatan ini disampaikan oleh Dekan FKH USK drh. Teuku Reza Ferasyi, M.Sc., Ph.D. Kemudian dilanjutkan kegiatan workshop pembuatan desinfektan yang diisi oleh Dr. drh. Darniati, M. Si.

Dekan FKH USK menyampaikan betapa berbahayanya PMK ini dan juga sangat merugikan secara masyarakat secara ekonomi. PMK merupakan penyakit mulut dan kuku yang bersifat akut dengan gejala lepuh pada mulut dan kuku, serta gejala penurunan nafsu makan yang berimbas pada penurunan berat badan, keguguran dan infertilitas. Ditularkan melalui aerosol, kontak langsung atau tidak langsung melalui angin dan peralatan yang terkontaminasi.

"PMK bisa dicegah, PMK bisa disembelih, PMK tidak zoonosis dan produknya masih dapat dikonsumsi asal dengan metode pengolahan yang tepat," jelas Dekan FKH USK.

Sementara itu, pembuatan desinfektan menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat, seperti bayclin dan air dengan perbandingan 1:10. Penggunaan campuran ini efektif dalam membasi kuman penyakit termasuk virus penyebab PMK.