Civitas Akademika Unsyiah Berduka atas Meninggalnya BJ. Habibie

13.09.2019 Humas

Rektor Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng mewakili segenap civitas akademika Unsyiah, menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya Mantan Presiden Indonesia ketiga Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng dalam usia 83 tahun di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, pada Rabu 11 September 2019 kemarin. (Banda Aceh, 12/9)

“Kepergian Habibie merupakan suatu duka yang mendalam bagi kita semua. Habibie adalah putra terbaik bangsa. Ia adalah negarawan yang patut menjadi teladan bagi generasi bangsa ini,” ucap Rektor.

Rektor mengatakan, meskipun Habibie hanya sebentar memimpin negeri ini, namun bangsa ini merasakan betul kepemimpinannya. Salah satu prestasi penting Habibie adalah kemampuannya mengendalikan nilai tikar rupiah saat Indonesia mengalami krisis moneter pada tahun 1998.

Ketika itu nilai tukar rupiah melemah hingga Rp. 16.800 per dolar. Namun berkat kepemimpinanya, nilai tukar rupiah berhasil menguat dari belasan ribu per dolar hingga menyentuh Rp. 7000 per dolar menjelang akhir pemerintahannya.

“Keberhasilan Habibie menekan rupiah kala itu, memberikan pengaruh yang sangat signifikan bagi perekonomian Indonesia. Di saat banyak orang meragukannya kemampuannya, namun Habibie berhasil membuktikan kepempimpinannya,” ucap Rektor.

Selain itu, Rektor juga menilai Habibie telah meletakkan dasar-dasar demokrasi yang penting bagi bangsa ini. Salah satunya adalah memberikan kebebasan pers di masa pemerintahannya. Saat itu Habibie mendorong lahirnya UU Nomor 40 tahun 1999 tentang pers, sehingga kran kebebasan pers yang sebelumnya tertutup kini menjadi lebih terbuka.

“Lahirnya UU ini sangat mempengaruhi iklim demokrasi kita seperti sekarang ini,” ucap Rektor.

Untuk itulah, kepergian Habibie adalah suatu kehilangan yang besar bagi bangsa Indonesia. Habibie adalah sosok negarawan sejati. Di saat ia telah mendapatkan hidup yang nyaman di luar negeri. Namun Habibie bersedia kembali ke Indonesia untuk mengabdikan hidupnya demi kemajuan bangsa ini.

“Saya kira ini adalah sebuah keteladanan penting bagi generasi muda Indonesia. Bahwa mengabdikan hidup untuk membangun negara ini, harus menjadi cita-cita luhur dalam setiap jiwa kita,” ucap Rektor.