Diskusi Publik; Haruskah Unsyiah Berganti Nama?

02.07.2014 Humas

Setelah wacana pergantian nama Unsyiah (Universitas Syiah Kuala) merebak di berbagai media massa, hari ini, Rabu (3/7), Universitas Syiah Kuala mengadakan diskusi publik yang secara khusus membahas tentang nama Universitas Syiah Kuala. Diskusi yang berlangsung di gedung AAC Dayan Dawood ini dihadiri oleh Muspida Provinsi Aceh, para alumni, pemangku kepentingan, serta seluruh civitas akademika Unsyiah.

Rektor Unsyiah, Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng. mengatakan bahwa diskusi ini diadakan untuk meluruskan sejarah serta asal-muasal nama Universitas Syiah Kuala. Karena, dari berbagai laporan yang diterimanya, tercetus bahwa kata syiah yang ada dalam nama Universitas Syiah Kuala sering dikaitkan dengan Syi’ah, yaitu salah satu aliran yang masih diperdebatkan dalam agama Islam. Informasi itu bahkan beredar tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di luar negeri.

Dalam diskusi ini, semua pihak yang hadir dapat berbicara dan memberikan argumen serta masukan terkait pergantian nama Unsyiah. Para hadirin sangat antusias dalam menyampaikan pendapatnya soal itu.

Teuku Abdullah Sulaiman atau yang akrab disapa T.A. Sakti, seorang ahli sejarah Unsyiah berpendapat, kosakata syiah sudah sering dipakai pada masa kerajaan. Sayangnya, kata tersebut tak populer di zaman modern ini. Kata syiah bukan berarti Syi’ah. Syiah di sini bukanlah nama sebuah aliran agama melainkan kata yang disadur dari bahasa Arab, yaitu syeikh. Jadi, tugas seluruh keluarga besar Unsyiah-lah untuk memopulerkan istilah itu.

Ketua Majelis Pendidikan Aceh, Warul Walidin, berpendapat bahwa nama Unsyiah tidak perlu diubah karena nama tersebut memiliki background historis yang sangat kental. Selain itu, menurutnya, kata syiah dalam nama Syiah Kuala tidak ada konotasi sama sekali dengan kata syi’ah.
Selain itu, Ilhamullah, salah seorang peserta lainnya juga menyampaikan, setelah 52 tahun Unsyiah berdiri, kasus keterkaitan antara Unsyiah dengan aliran Syi’ah baru mencuat sekarang karena Syi’ah tengah diributkan saat ini. Hal tersebut bisa semakin berbahaya jika pemimpin universitas tidak mengambil keputusan dengan tegas. Untuk itu, tambahnya, harus ada fatwa yang tegas dari pemimpin universitas bahwa Unsyiah bukanlah kampus yang beraliran Syi’ah.

Dari puluhan peserta diskusi yang memberikan pendapatnya, kesemuanya tidak menyetujui nama Unsyiah diganti. Nama yang sudah melekat di benak rakyat Aceh ini sulit untuk ditukar dengan nama lain. Sebagian besar mereka juga berpendapat bahwa Unsyiah hanya perlu melakukan sosialisasi lebih intensif kepada pihak luar untuk memberikan pemahaman bahwa nama tersebut tidak terhubung dengan aliran Syi’ah.

Di akhir diskusi, Rektor mengutarakan bahwa tidak ada satu pun pemimpin di Unsyiah yang ingin mengubah nama Unsyiah. “Diskusi ini kita adakan hanya untuk meluruskan sejarah serta mendengar pendapat berbagai pihak tentang nama dari universitas jantong hatee rakyat Aceh ini.”
Selanjutnya, tambah Samsul, hasil diskusi hari ini akan menjadi pedoman bagi kita semua untuk membuat keputusan tentang perlu tidaknya Unsyiah melakukan pergantian nama.[un-be]