Dosen FKep USK Jadi Panelis di Konferensi Internasional Kesehatan Mental

08.07.2021 Humas

Dosen Fakultas Keperawatan (FKEP) Universitas Syiah Kuala Farah Diba, MScPH  menjadi salah satu panelis pada The 20th Annual International Mental Health Conference yang diselenggarakan oleh Department of Mental Health, Ministry of Health Thailand. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini mengangkat tema New Normal Mental Health. (Banda Aceh, 7Juli 2021).

Pada kegiatan tersebut Farah Diba menyampaikan materinya dengan judul: “Meningkatkan Mekanisme Koping Adaptif Sebagai Strategi dalam Menghadapi Permasalahan Social Distancing”. Dosen FKep USK ini menjelaskan, saat ini mau tidak mau kita harus siap menerima keadaan new normal akibat dari Covid-19. Meskipun demikian, Farah Diba memahami bahwa tidak semua orang siap menghadapi situasi tersebut.

Dalam konferensi internasional ini, Farah Diba juga menjelaskan kondisi perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia. Di mana sampai saat ini Indonesia masih mengalami kenaikan kasus Covid-19 sehingga rumah sakit di kota-kota besar sudah kehabisan bed untuk pasien mereka.

“Indonesia saat ini menargetkan lebih banyak kelompok masyarakat yang mendapatkan Vaksin agar terciptanya Kekebalan kelompok atau Herd Immunity. Vaksin yang diberikan saat ini menargetkan beberapa kelompok utama seperti pekerja kesehatan, lansia, dan pekerja sosial,” ungkapnya.

Selanjutnya, Farah Diba menilai jika berkaca pada situasi Indonesia yang mengalami begitu bencana alam, sehingga hal tersebut menjadikan masyarakat Indonesia lebih rentan terhadap masalah kesehatan jiwa. Terutama mereka yang bekerja dalam bidang kesehatan, lansia, masyarakat dengan gangguan mental, wanita hamil, dan anak-anak.

Menurutnya, ada 10 kasus gangguan kesehatan mental yang paling banyak ditemukan yaitu rasa penyesalan (regret), kebencian, kesepian, perasaan tidak berdaya, depresi, anxiety, fobia, rasa cemas, keinginan untuk balas dendam, dan kekurangan tidur. 

Panelis lainnya yang berbicara dalam forum ini yaitu Rosfaizah Rahmat, M.D dari Asosiasi Psikiater Masyarakat & Rehabilitasi, Hospital Permai, Malaysia. Ia menceritakan mengenai situasi Covid di Malaysia dari awal hingga ke masa kini.  Menurutnya, ada beberapa masalah yang muncul di awal pandemic, seperti banyaknya misinformasi yang diterima public mengenai covid.

“Akhirnya, situasi yang disebabkan Covid-19 ini berdampak pada kesehatan mental masyarakat, di mana banyak di antara penduduk yang menderita depresi, stress, anxiety, serta gangguan tidur,” ujarnya.

Ditambah lagi, banyaknya informasi yang beredar dari media social menambah rasa depresi dan anxiety masyarakat.  Rosfaziah juga mengatakan, masyarakat yang menghabiskan lebih banyak waktunya di rumah sangat memungkinkan akan merasa stress.

“Untuk itu kami ingin membantu mereka dengan menyediakan layanan online untuk dukungan psikososial,” ujarnya.

Adapun pemateri lainnya yang turut berbicara di forum ini adalah Wang Zheng, Dokter Kesehatan Masyarakat, Rumah Sakit Kesehatan Jiwa Xi’an, Cina. Supasaek Virojanapa, M.D., MPH dari Diploma of Preventive Medicine, Community Mental Health, Department of Mental Health, Ministry of Public Health, Thailand.

Acara symposium ini berfungsi sebagai platform berbagi. Setiap pembicara saling memaparkan situasi covid-19 di tempat asal mereka dan membahas mengenai permasalahan terkati mental health (kesehatan mental / jiwa) yang dialami oleh penduduk di masa pandemic.