FEB Unsyiah Jalin Kerja Sama dengan Pemkab Pidie

17.11.2020 Humas

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Pidie. Kesepakatan kerja sama tersebut ditandatangani oleh Dekan FEB Unsyiah Prof. Dr. Nasir, S.E., MBA. dan Bupati Pidie Roni Ahmad di Pendopo Pudati Pemkab Pidie. (Pidie, 15 November 2020).

Dekan FEB Unsyiah berserta rombongan diterima oleh Bupati Pidie yang akrab disapa Abusyik, dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat Unsyiah di Kabupaten Pidie.

Pada kesempatan itu, FEB Unsyiah juga menjalin kerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Pidie, yang penandatanganan MoU-nya dilakukan oleh Plt Kadis Pendidikan Kabupaten Pidie Ridwandi. Kerja sama ini, dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Berdasarkan informasi dari laman berita  Waspadaaceh.com, pada pertemuan tersebut FEB Unsyiah menyatakan kesediaannya untuk membantu pembuatan merek, dan merancang kemasan produk bubuk kopi fermentasi dan pupuk organik milik Bupati Pidie.

“Tadi bapak Bupati Pidie bisik sama saya kalau beliau sedang mengembangkan pupuk organik, dan bubuk kopi fermentasi. Rasa kopinya tentu sangat berbeda dengan rasa kopi biasa. Makanya tugas kita nanti membuat merek, kemudian juga merancang kemasan yang bagus sehingga dengan demikian akan bisa dijual baik dalam pasar lokal mapun nasional,” ungkap Prof. Nasir Aziz.

 Dekan FEB Unsyiah ini mengatakan, bahwa saat ini sudah berubah paradigma dengan istilah industri 4.0. Di mana pada zaman sekarang segalanya sudah dilakukan secara online.

“Makanya saya kira kewajiban kita sebagai orang kampus, bagaimana kita bisa memasarkan produk UMKM tidak lagi secara manual. Tetapi mesti kita pasarkan secara digital,” ujar Prof. Nasir Azis.

 Apalagi, lajut dia, dalam kondisi pandemi COVID-19 menjadikan situasi ekonomi di dunia, termasuk Indonesia, sekarang terpuruk akibat pandemi ini.

 “Yang katanya Jerman hebat, sekarang pertumbuhan ekonominya minus 12 persen. Amerika hebat sekali dan kokoh ekonominya, sekarang pertumbuhan ekonominya minus 8 persen. Inggris minus dan Singapore, itu lebih parah minusnya 16 persen. Sedangkan Indonesia pada kuartal ke kedua, minus 5 persen dan pada kuartal ke tiga masih minus 3,4 persen,” jelas Nasir Azis.

Artinya sambung dia, pandemi COVID-19 ini menuntut semua pihak bagaimana melakukan sesuatu yang baru, dan salah satu yang harus  dilakukan yakni menjual produk-produk secara online.

“ Tidak lagi bertemu fisik, tetapi via online atau onair,” pungkasnya.