FK USK Paparkan Hasil Riset yang Didanai WHO

24.02.2021 Humas

Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala bekerja sama dengan Centre for Environment and Population Health (CEPH), Griffith University, Australia menggelar National Stakeholder Consultation Meeting untuk memaparkan hasil riset yang didanai WHO. (Banda Aceh, 24 Februari 2021).

Kegiatan tersebut mengangkat tema, “Climate-Related Disaster and Health Adaptation Policy In Indonesia: Progress And Challenges”, sebagai bentuk respon  terhadap peningkatan bencana yang disebabkan oleh iklim.

Riset yang dilakukan USK ini merupakan proyek penelitian multi negara. Selain CEPH Griffith University, pihak lain yang terlibat adalah Guangdong CDC Institute of Public Health (China), dan Hanoi School of Public Health, Danang University of Medical Technology and Pharmacy (Vietnam).

Untuk studi di Indonesia, yang bertindak sebagai co Principal Investigator adalah Rina Suryani Oktari, M.Si (Dosen FK USK) dan Dr Febi Dwirahmadi (Dosen Griffith University).

Sebagai langkah awalnya, ungkap Rina, penelitian difokuskan pada dampak dari bencana yang disebabkan oleh iklim serta adaptasi sektor kesehatan untuk melindungi kelompok rentan di Cina, Vietnam, and Indonesia. Penelitian ini didanai oleh World Health Organization (WHO) Kobe Centre for Health Development.

“Penelitian bertujuan untuk membangun database multi-negara dan mengidentifikasi studi-studi yang telah dilakukan sebelumnya yang ada di ketiga negara tersebut, berbagi pengetahuan, kebutuhan pengembangan kapasitas, serta aksi dan kesenjangan yang ada,” jelas Rina.

Kegiatan National Consultation Meeting ini bertujuan untuk menyajikan ringkasan awal dari hasil penelitian tentang dampak bencana terkait iklim dan adaptasi kesehatan di Indonesia, yang berdasarkan bukti kajian ilmiah. Selain itu, untuk memfasilitasi pertukaran pengetahuan tentang wawasan membangun konsensus bersama, untuk melaksanakan rencana adaptasi kesehatan bagi populasi rentan di Indonesia.

Acara secara daring ini turut dihadiri oleh Dr. Ryoma KAYANO (Centre for Health Development, WHO Kobe), Prof. Cordia Chu, Dr Dung Tri Phung, Connie CR Gan and Dr Febi Dwirahmadi (Centre for Environment and Population Health (CEPH), Griffith University), Dr Tao Liu (Guangdong Institute of Public Health and Tsinghua University Institute of Hospital Management) dan Dr Tran Thi Tuyet Hanh (Hanoi University of Public Health).

Acara yang dimoderatori oleh Febi Dwi Rahmadi, SKM, MSc.PH, Ph.D dari CEPH, Griffith University, menghadirkan beberapa narasumber termasuk dari BAPPENAS, Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Rina yang mewakili tim peneliti Indonesia juga menyampaikan, bahwa dari scoping review yang dilakukan telah mengidentifikasi 3209 potensial studi dan menganalisis lebih lanjut 29 studi yang berkaitan dengan bencana terkait iklim dan adaptasi sector Kesehatan. Terlihat bahwa fokus studi yang dilakukan selama ini masih didominasi oleh wilayah Jawa dan Sumatra.

Selain itu, Rina juga menyampaikan bencana terkait iklim belum mendapat prioritas dalam kebijakan penanggulangan bencana di Indonesia. Perlu adanya keterkaitan antara bencana perubahan iklim memberikan dampak dalam sektor kesehatan dan membutuhkan koordinasi pada stakeholder yang terlibat.

Beberapa permasalahan yang teridentifikasi termasuk kurangnya koordinasi lintas stakeholder untuk memitigasi dampak dari bencana iklim. Khususnya dalam bidang kesehatan, dan kurangnya kebijakan yang fokus untuk memberikan informasi (masih adanya ego sektoral).

“Selain itu, mayoritas kebijakan hanya berada pada level nasional atau Negara, sehingga perlu untuk menerjemahkan kebijakan tersebut kedalam rencana tingkat lokal atau provinsi,” ungkapnya.

Emod Tri Utomo dari BAPPENAS juga menegaskan, bahwa di tingkat pusat telah disusun Green RPJMN, di mana dalam prioritas nasional yang ke-6 adalah increasing disaster and climate change resilience.

“Harapannya Green RPJMN ini dapat ditindaklanjuti juga oleh daerah dengan menyusun Green RPJMD,” ucapnya.

Kristin Darundiy dari Kemenkes menyampaikan, bahwa Kemenkes telah menyusun beberapa regulasi terkait riset mengenai dampak perubahan iklim terhadap kesehatan dan advokasi internal di Kemenkes.

Kemenkes juga memobilisasi sektor kesehatan dalam adaptasi perubahan iklim, hingga dilakukan penyusunan pedoman dan kurikulum modul dan teknis mengenai adaptasi perubahan iklim dalam sektor kesehatan. Saat ini, Kemenkes telah memiliki program DESA SEHAT IKLIM atau “DESI” untuk implementasi di level masyarakat.

“Riau, jambi, DKI, Sulteng dan Jawa Tengah, merupakan lokasi yang dipilih untuk dilakukan pilot tes dari program DESA SEHAT IKLIM,” tambah Kristin.

Keseriusan KLHK dalam mengatasi bencana yang disebabkan oleh iklim ditunjukkan dengan adanya komitmen yang tertuang dokumen National Determined Contribution (NDC) dengan target mengurangi risiko, meningkatkan kapasitas adaptif, memperkuat ketahanan dan mengurangi kerentanan.  

Posisi dokumen NDC sebagai payung ditingkat nasional dan daerah, sebagaimana yang dipaparkan oleh Bapak Ir. Arif Wibowo, M.Sc mewakili KLHK.

Acara ini juga turut dihadiri oleh perwakilan lembaga internasional (WHO, UNDP, IFRC); perwakilan Pemerintah Aceh, Maluku dan Nusa Tenggara Barat serta Pemerintah Kota Banda Aceh, Ambon dan Mataram (Dinas Kesehatan, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan). Perkumpulan organisasi profesi (Persakmi, IDI, PPNI, IBI), akademisi dan perwakilan kelompok masyarakat.