FKP USK Gelar Konferensi Internasional ICFAES

05.08.2021 Humas

Universitas Syiah Kuala melalui Fakultas Kelautan dan Perikanan menyelenggarakan konferensi Internasional yang bernama International Conference on Fisheries, Aquatic, and Environmental Sciences (ICFAES). Kegiatan yang dilaksanakan secara daring daring dari Banda Aceh dan Kota Nanning, Provinsi Guangxi, Cina ini dibuka oleh Rektor USK Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng. (Banda Aceh, 4 Agustus 2021).

Dalam sambutannya, Rektor mengatakan ICFAES tahun ini bekerja sama dengan Guangxi Academy of Science, Tiongkok sebagai bagian dari kerja sama berkelanjutan internasional USK dalam program pertukaran ilmiah. Kesepakatan ini telah tertuang dalam MoU antara USK dengan GxAS Tiongkok pada tahun 2018 lalu.

“Karena itulah saya dengan senang hati menyampaikan penghargaan yang tulus atas kerja sama dan dukungan atas terlaksananya  konferensi ICFAES 2021 ini,” ucap Rektor.

Konferensi ini mengangkat tema “Synergy and Collaboration among Marine and Fisheries Stakeholders to Promote Sustainable Development Goals”.  Rektor berharap, dengan tema tersebut maka konferensi ini diharapkan dapat menjawab permasalahan industri berbasis riset dan kolaborasi.

Adapun pembicara utama konferensi ini adalah  Prof. Mazlan Abdul Ghaffar (Wakil Rektor, Universitas Malaysia Terengganu), Prof Junichi Tanaka dari Ryukyu University Jepang, dan Prof. Yushinta Fujaya dari Universitas Hasanuddin, Makassar, Indonesia.

Rektor menyakini, ICFAES ke-3 ini dapat membuka peluang bagi para peneliti, ilmuwan, dan mahasiswa di lingkungan perairan dan perikanan untuk berbagi pekerjaan, pikiran, ide, belajar dari dan bersandar satu sama lain di masa depan yang penuh tantangan ini.

“Meskipun kita menghadapi masalah yang sangat berat yaitu pandemi Covid 19, dengan memperhatikan protokol Covid19, kita terus berjuang, bekerja keras, mencoba yang terbaik untuk menjadi lebih profesional,” ucap Rektor.

Dekan FKP USK Prof. Dr. Muchlisin Z.A., S.Pi., M.Sc, menjelaskan, konferensi ini sebagai bentuk kontribusi USK terhadap dunia riset. Sejak tahun 2018 setiap tahun FKP USK mengadakan konferensi internasional, yang tidak hanya melibatkan peneliti dari Indonesia tetapi juga dari berbagai belahan dunia lainnya. 

Dua tahun lalu, FKP USK berhasil mengadakan International   Conference   on  Fisheries,   Aquatic,   and   Environmental Sciences as well as The 6th  Annual Conference of the Asian Society of Ichthyologists, yang diikuti oleh lebih dari 200 peserta dari empat benua.

Tahun ini, karena kondisi pandemic maka kegiatan ini dilaksanakan secara virtual. Untuk itulah, Prof. Muchlisin berharap meskipun tidak bertatap muka, namun esensi dari pertemuan ilmiah ini tidak hilang. Semangat untuk terus berkolaborasi dalam hal penelitian dan publikasi adalah salah satu tujuan FKP USK.

“Kami berharap jaringan penelitian yang telah dibangun sebelumnya dapat diperluas dan diperkuat di masa depan. Harapannya, permasalahan dunia khususnya di sektor kelautan dan perikanan dapat diselesaikan dengan inovasi riset kami,” ucapnya.

Ketua pelaksana ICFAES tahun ini Dedi Fazriansyah Putra, M.Sc menjelaskan, kegiatan tahunan ini dihadiri oleh peneliti internasional dan nasional, dosen, praktisi akademik dari seluruh dunia.

Pihak Panitia juga  telah menerima sekitar 180 abstrak dari dari 7 negara yang telah mendaftar yaitu Inggris, Jepang, Cina, Malaysia, Afrika, Arab Saudi, dan tentu saja, Indonesia. Terwujdunya kegiatan ini tidak terlepas dari program kampus bekerja sama dengan mitra kelas dunia, dalam rangka mendukung merdeka belajar-kampus merdeka (MBKM) sebagai salah satu target dari 8 Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi.

Pada Konferensi kali ini, turut hadir pula pembicara dari praktisi/industri yaitu Direktur Utama PT. Yakin Pasific Tuna Almer Hafis Sandy, ST yang  memaparkan bagaimana mengoptimalkan pengelolaan mutu industri ikan tuna Aceh.

Ia menjelaskan, secara geografis Aceh diapit oleh dua perairan Samudera Hindia dan Selat Malaka. Di mana potensi laut Samuedera Hindia belum tergarap secara optimal, karena keberadaan industri penangkapan dan pengolahan masih sangat terbatas baik dari segi penanganan hasil tangkapan sampai ke unit pengolahan.

“Sehingga dampaknya hampir 70 % ikan Aceh diolah di Medan, tentu jika dioalah di Aceh akan terserap tenaga kerja lokal dan meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujarnya.