FMIPA Unsyiah Kaji Pengembangan Biofarmaka dari Biodiversity Leuser

20.10.2020 Humas

Jurusan Kimia FMIPA Universitas Syiah Kuala menyelenggarakan Webinar Nasional yang berjudul Riset Hulu dan Hilir  Pengembangan Biofarmaka dari Biodiversity Ekosistem Leuser. Kegiatan secara daring ini dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik Unsyiah Prof. Dr. Marwan. (Banda Aceh, 17 Oktober 2020).

Ketua Panitia Elly Sufriadi menyampaikan, kegiatan ini bertujuan untuk merancang peta jalan untuk penelitian tanaman obat yang berasal dari Ekosistem Leuser.

Pada kegiatan tersebut, secara umum seluruh pemateri mengungkapkan bahwa pemanfaatan Ekosistem Leuser sebagai sumber bahan baku obat-obatan merupakan sebuah keharusan, karena diperkirakan keunikan dari Ekosistem Leuser ini berpotensi menghasilkan bahan baku obat yang belum pernah ditemukan di dunia.

“Para pakar ini merekomendasikan untuk segera ditindaklanjuti dengan pembentukan tim periset yang handal dan focus bekerja dalam jangka pnajang dalam rangka mewujudkan kemandirian bahan baku obat Indonesia,” ujarnya.

Elly mengungkapkan, kegiatan ini berhasil menarik banyak minat peserta dari  seluruh Indonesia. Ada sekitar 970 orang yang mengikuti webinar ini. Mareka berasal dari kalangan Guru Besar dari universitas ternama di Inonesia, para Doktor dari berbagai perguruan tinggi dan Lembaga riset di Indonesia, serta mahasiswa program doktor sampai dengan mahasiswa strata S1.

Elly menjelaskan, kegiatan seperti ini sangatlah penting. Mengingat ekosistem Leuser  merupakan salah satu kekayaan alam terbesar Indonesia dengan keanekaragaman hayatinya yang masih tersisa. Diperkirakan hampir ratusan ribu spesies tanaman yang baik yang sudah dikenal maupun belum dikenal terdapat di dalamnya.

Ekosistem Leuser terhampar di wilayah  Provinsi Aceh dan sebagian Sumatera Utara, yang menjadi bagian dari pulau Sumatera di Indonesia. Ekosistem yang megah dan kuno ini terdiri dari 2,6 juta hektar hutan hujan dataran rendah, rawa gambut, pegunungan dan hutan pantai serta padang rumput pegunungan.

“Secara global Leuser diakui sebagai salah satu hamparan hutan hujan tropis terkaya yang tidak ditemukan di mana pun di Asia Tenggara. Selain itu Ekosistem Leuser juga merupakan salah satu penyerap karbon terbesar di Asia,” ucapnya

Berdasarkan hasil riset yang berjudul Economic valuation of the Leuser National Park on Sumatra, Indonesia, total economic value yang dihasilkan dari Ekosistem Leuser mencapai   9 milliar US dollar atau setara dengan  137,75  trilyun rupiah  per tahun.

Selain itu, penelitian terhadap 158 spesies yang hidup di dalam ekosistem Leuser juga telah dilakukan. Hasilnya menunjukkkan bahwa Ekosistem Leuser memiliki potensi kandungan obat yang sangat besar  dan telah teruji digunakan sebagai obat secara tradisional selama puluhan tahun di Aceh.

“Hasil riset ini sayangnya belum ditindaklanjuti secara serius untuk pemanfaatan bahan obat,” ucapnya.

Di sisi lain, Indonesia sangat terbeban dengan kebutuhan impor bahan baku obat-obatan  untuk kebutuhan Indonesia. Data  BPS mengungkapkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat mencapai 90% dari seluruh kebutuhan bahan baku. Dari informasi ini tergambar bahwa potensi pengembangan bahan baku obat ini  menjadi sangat penting dilakukan.

 “Melihat hal ini sebagai tantangan sekaligus peluang yang harus segera dimanfaatkan, khususnya dalam  riset-riset baik hulu maupun hilir terhadap pemanfaatan biodivesitas Ekosistem Leuser menuju kemandirian bahan baku obat Indonesia,” ucapnya.

Secara khusus Ketua DPRA, H. Dahlan Jamaluddin, S.IP saat menyampaikan pidatonya dalam video, mengungkapan bahwa dirinya  menyambut baik dan sangat mendukung upaya yang dilakukan untuk memulai riset tersebut.

Hadir sebagai pembicara pada kegiatan ini Muamar Vebry (Programme Manager for Climate Change Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei), Safuadi, ST, M.Sc, Ph.D (Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh), Dr. Ir. Ema Alemina, MP (Kabid Litbang Bappeda Aceh), Prof. Dr. Taifo Mahmud, M.Sc (Professor and Faculty Member di Oregon State University, USA).

Lalu Prof. Yana Maolana Syah, M.S. Ph.D (Guru Besar Kimia Organik Institut Teknologi Bandung), Prof. Dr. Khalijah Awang (Professor di Department of Chemistry, Faculty of Science, University of Malaya), Prof. Dr. Irmanida Batubara, S.Si. M.Si (Guru Besar Kimia Analitik di Institut Pertanian Bogor), Prof. Dr. Mustanir, M.Sc (Guru Besar Kimia Organik Jurusan Kimia FMIPA Unsyiah), dan Dr. Teuku Mohamad Iqbalsyah, S.Si. M.Sc (Peneliti Biomolekuler Jurusan Kimia sekaligus Dekan  FMIPA Unsyiah)