Ketua MPR Sosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan di USK

10.06.2021 Humas

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia H. Bambang Soesatyo, SE., MBA mengunjungi Universitas Syiah Kuala dalam rangka mensosialisasikan empat pilar kebangsaaan yang dilaksanakan secara daring dan luring dari Gedung AAC Dayan Dawood. (Banda Aceh, 10 Juni 2021).

Bamsoet, begitu ia kerap disapa menyampaikan materi dengan tema "Merawat Indonesia yang Pluralisme Melalui Penanaman Empat Pilar Kebangsaan di Perguruan Tinggi".

Rektor USK Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas kesediaan Ketua MPR untuk menyampaikan materi yang merupakan pondasi penting bangsa ini di USK.

Kegiatan seperti ini, ungkap Rektor, sangat penting karena dapat membuka wawasan kita semua tentang konsep pluralisme di Indonesia, namun tetap menguatkan persatuan dan kesatuan.

Rektor menilai, tema pluralisme sesungguhnya bukanlah isu baru dalam kehidupan manusia. Bahkan Rasulullah telah mencontohkan cara terbaik merawat pluralisme dalam persatuan dan kesatuan. Sejarah ini tertuang secara detail dalam dokumen piagam Madinah, yang menjadi tonggak sejarah dimulainya peradaban islam

“Oleh karena itu, berbagai paham yang merusak persatuan dan kesatuan dengan alasan perbedaan adalah primitif, kuno, dan hanya layak hidup sebelum masa Rasulullah SAW. Apalagi jika paham ini tumbuh di perguruan tinggi, yang nota bene adalah kawah candradimuka bagi para intelektual,” ucap Rektor.

Sementara itu, Bamsoet mengatakan perbedaan adalah sebuah keniscayaan suatu bangsa. Untuk itulah, kita harus bisa mengelola perbedaan tersebut menjadi anugrah untuk kemajuan bangsa.

Selain itu, ia menilai tujuan berpolitik sebenarnya adalah untuk mencapai kesejahteraan bagi bangsa dan negara. Maka jika  selama ini ada tokoh politik yang membangun narasi kebencian, maka dia sebenarnya membawa bangsa ini pada kehancuran. Sebab politik hakikatnya adalah membangun bangsa ini dengan praktik-praktik terpuji.

“Orang-orang yang masih mempertentangkan agama, suku seharusnya tidak mendapatkan tempat lagi di Indonesia. Alhamdulillah, pemerintah telah menindak dengan tegas benih-benih yang coba mempertentangkan agama, suku dan adat kita,” ucapnya.

Bamsoet menilai, pasca reformasi atau tepatnya setelah tidak diajarkan lagi Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), bangsa ini seperti kehilangan identitasnya sehingga melahirkan banyak gangguan seperti radikalisme.

Menurutnya, inilah yang menjelaskan mengapa setelah reformasi kita diuji dengan berbagai kekerasaan. Seperti bom bunuh diri atau gerakan radikal lainnya. Penyebabnya, karena banyak anak muda yang kehilangan arah sehingga masuklah kelompok radikal yang mempengaruhi mereka atas nama agama.

Oleh sebab itu, Bamsoet menilai sosialisasi ini sangat penting karena betujuan untuk menebalkan kembali nilai-nilai kebangsaan dalam diri kita. Membawa kita ke tujuan bernegara yang sesungguhnya yaitu mewujudkan kesejahteraan bangsa sesuai pada Pembukaan UUD 1945.

“Sehingga penting dalam konstitusi kita mendorong para penyelenggara bangsa ini untuk patuh pada arah perjuangan bangsa,” ucapnya.

Sebelum kegiatan ini, Bamsoet terlebih dahulu membuka rapat audiensi dengan jajaran Pemerintah Papua, yang dilakukan secara daring dari Ruang Mini Rektor USK.