Mahasiswa KKN Unsyiah Dirikan Asuransi Kesehatan Gratis Berbasis Sampah Plastik

27.01.2020 Humas

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Syiah Kuala mendirikan project asuransi kesehatan gratis berbasis sampah plastik. Kegiatan yang digagas oleh Mahasiswa KKN Unsyiah kelompok 23 ini, melibatkan kader posyandu, polindes, PKK dan Pukesmas Kecamatan Bukit, Bener Meriah. (Jumat, 24/1/2020).

Ketua Kelompok KKN 23 Unsyiah Muammar menjelaskan, kegiatan sosial ini bernama Aceh Plastic Health Care Insurance for Stunting (APHCIS). Program ini, ungkap Muammar, merupakan suatu aksi nyata mereka dalam memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat  berbasis lingkungan hidup bersih dan sehat.

Kelompok KKN 23 beranggotakan 6 orang, yaitu Muammar (FK 16), Karnaini (TE 16) Widianysah Maulana(FEB 17), Ade Mardiya Qahar (Fisip 17), Cut Savinatun Naza (FH 17), Shafia Amalia (FKP 17). Mereka sepakat, membuat sebuah inovasi baru untuk memberikan pelayanan kesehatan masyarakat gratis dengan prinsip ramah lingkungan.

Adapun teknis pelaksanaannya, masyarakat cukup membawa sampah plastik/organik dari rumah, untuk mendapatkan pelayanan/konsul  gratis terkait stunting dan kesehatan.

Selanjutnya, sampah plastik tersebut  dibuat kreasi/kerajinan yangg bernilai jual di pasar. Sedangkan sampah organic, diolah menjadi pupuk atau kompos yangg bermanfaat di bidang pertanian.

“Sehingga dapat membuka lapangan kerja baru bagi orang yang ekonomi kurang hingga mereka mandiri dan mampu mencegah stunting sejak dini,” ucapanya.

  

KKN Unsyiah Tahun 2020 yang merupakan kerjasama Pemerintah Kabupaten Bener Meriah dan Unsyiah, mengusung tema "Pengelolaan Sampah, Sanitasi Lingkungan dan Pencegahan Stunting.”

“Untuk itulah, Kegiatan ini sangat sejalan dengan harapan dan tujuan Bupati Bener Meriah dalam menyelesaikan problema kesehatan lingkungan hidup di daerahnya,” ungkap Muammar.

Menurut Data Kemenkes RI, angka prevalensi stunting di Aceh cukup tinggi yaitu sebanyak 37,9%. Sementara itu, di Desa Karang Rejo angka stuntingnya untuk Kabupaten Bener Meriah masih tergolong tinggi. Data yang didapatkan dari kader posyandu dan polindes, ada sekitar 12 orang balita yang mengalami stunting dari ratusan anak di desa itu. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian dan tindak cepat dari pemerintah Aceh dan kabupaten setempat.

“Hal ini sangat disayangkan, mengingat desa ini berada di pusat kabupaten,” ucap Muammar.

Muammar berharap project mereka ini nantinya dapat dipresentasikan pada Bulan Stunting Februari nanti. Atau tepatnya, saat penjemputan mahasiswa KKN Unsyiah di Kantor Bupati Bener Meriah.

“Kami pun berharap, program ini dapat dipatenkan dan Insya Allah bisa bermanfaat bagi Aceh di masa depan,” pungkasnya.