Mahasiswa Magister Keperawatan Unsyiah Adakan Penyuluhan Stigma Gangguan Jiwa di RSJ Aceh

09.10.2019 Humas

Sekelompok mahasiswa Magister Keperawatan Fakultas Keperawatan Unsyiah mengadakan penyuluhan kesehatan jiwa masyarakat (psikoedukasi) untuk orang dengan gangguan jiwa (ODGJ)  dan keluarganya di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh, Jumat 4 Oktober 2019.  Penyuluhan tersebut mengangkat topik “Reduksi Stigma Orang dengan Gangguan Jiwa di Masyarakat” yang diikuti oleh 28 peserta yang terdiri atas pasien dengan gangguan jiwa dan keluarganya. Mereka adalah pasien dengan gangguan jiwa rawat jalan yang ditemani oleh keluarga masing-masing untuk melakukan kontrol ulang di Poli Rawat Jalan RSJ Aceh.

Kegiatan penyuluhan kesehatan jiwa yang diinisiasi oleh mahasiswa Magister Keperawatan Unsyiah tersebut merupakan salah satu bagian dari tugas Praktik Keperawatan Jiwa Lanjut di RSJ Aceh dengan bimbingan dari Ns. Syarifah Rauzatul Jannah, MNS, Ph.D dan Dr. rer.med. Ns. Marthoenis, MSc, MPH. Keduanya merupakan dosen Bagian Keperawatan Jiwa Fakultas Keperawatan Unsyiah. 

  

Ns. Syarifah Rauzatul Jannah, Ph.D selaku koordinator mata kuliah Praktik Keperawatan Jiwa Lanjut menyampaikan bahwa tujuan dilaksanakannya penyuluhan tersebut adalah untuk memberikan pemahaman tentang stigma ODGJ di masyarakat, hak-hak pasien, dampak stigma terhadap ODGJ, serta bagaimana penanganan stigma ODGJ di masyarakat.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas promosi kesehatan mata kuliah Praktik Keperawatan Jiwa Lanjut  yang harus dilakukan oleh mahasiswa Magister Keperawatan dengan Peminatan Jiwa Fakultas Keperawatan Unsyiah. Kita berharap dengan adanya kegiatan ini bisa mengurangi stigma ODGJ di masyarakat ” ungkapnya.

Ns. Syarifah Rauzatul Jannah, Ph.D menambahkan bahwa stigma yang paling sering diterima ODJG adalah dalam bentuk label negatif.

“Kita sering mendengar banyak penyebutan untuk mereka dengan gangguan jiwa, misalnya orang gila, orang bodoh, orang kurang iman, orang yang kurang pas, orang yang suka mengamuk, dan lain-lain. Label tersebut bisa membuat ODGJ merasa malu, rendah diri. Dampaknya, pasien tidak mau diajak untuk kontrol ke dokter karena menghindari stigma.”

Sementara itu, Dr. Marthoenis mengatakan bahwa di Aceh masih terdapat banyak keluarga yang mengabaikan anggota keluarganya yang menderita gangguan jiwa, bisa karena malu, tidak peduli, atau tidak paham. Dosen Fakultas Keperawatan Unsyiah yang pernah meneliti tentang pasung di Aceh ini menyebutkan bahwa ketika keluarga tidak teredukasi dengan baik tentang gangguan jiwa, keluarga bisa melakukan tindakan yang bisa memperparah kondisi pasien, memasung ODGJ misalnya.

“Keluarga memainkan peran penting dalam melakukan perawatan terhadap pasien dengan gangguan jiwa. Untuk itu keluarga harus diberi pendidikan berupa psikoedukasi terkait gangguan jiwa anggota keluarganya, agar keluarga bisa merawat anggota keluarganya dengan baik di rumah dan bisa menjelaskan ke masyarakat tentang gangguan jiwa yang diderita anggota keluarganya,” ungkapnya.

Kegiatan penyuluhan dengan sasaran pasien dengan gangguan jiwa dan keluarganya tersebut tidak akan berjalan sukses tanpa dukungan dari  Instalasi Keswamas (Kesehatan Jiwa Masyarakat) dan Unit PKRS (Promosi Kesehatan Rumah Sakit) Rumah Sakit Jiwa Aceh. RSJ Aceh sendiri memiliki program penyuluhan kesehatan seminggu sekali di Poli Rawat Jalan RSJ.