Perpustakaan Unsyiah Putar Film Perjalanan Hidup Ibnu Batutah

09.05.2019 Humas

Selama bulan Ramadan Perpustakaan Universitas Syiah Kuala menggelar pemutaran film-film terkait sejarah islam. Salah satunya adalah film Journey to Mecca. Film yang menceritakan perjalanan Ibnu Batutah menuju kota Mekkah ini  ditayangkan di Ruang Adnan Ganto Multimedia Center Unsyiah. (Rabu, 8/5).

Kepala UPT Perpustakaan Unsyiah Dr. Taufik Abdul Gani mengatakan, kegiatan yang bertajuk Islamic Movie Show ini merupakan bagian dari cara Perpustakaan Unsyiah untuk menggiatkan semangat literasi. Perpustakaan Unsyiah juga melakukan kerja sama dengan pihak Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Masjid Jami terkait penentuan film-film apa saja yang layak diputar.

“Setiap film yang akan kita putar nantinya, akan kita konfirmasi dulu dengan pihak BKM. Kita harapkan kegiatan ini bisa bernilai poitif bagi semua,” ucap Taufik.

Selain pemutaran film, lanjut taufik, pada kegiatan ini juga diadakan diskusi film yang tujuannya adalah untuk membuka khazanah baru bagi penonton. Adapun yang hadir sebagai pemateri kali ini adalah Dosen FMIPA Unsyiah Dr. Suhrawardi Ilyas, M.Sc.

Setelah film usai, Suhra pun menjelaskan pandangannya terkait film Journey to Mecca tersebut. Menurutnya, salah satu pelajaran penting dari tekad Ibnu Batutah untuk melakukan perjalanan yang panjang adalah, semangatnya untuk keluar dari zona nyaman.

“Alhasil, catatan perjalanannya menjadi sumbangsih penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan saat ini. Karena catatan perjalannya menjadi referensi para ahli baik ahli sejarah, botani dan lainnya,” ucapnya.

Suhra juga mengatakan, bahwa ada hal menarik dari perjalanan Traveler Muslim ini. Jika saat ini orang-orang melakukan perjalanan karena hanya karena ia belum pernah mengunjungi tempat tersebut. Namun pada masa Ibnu Batutah, motivasinya melakukan perjalanan adalah karena telah ada orang-orang sebelumnya yang telah sampai di tempat tertentu.

“Oleh karena itu, ketika Ibnu Batutah telah sampai ke Mekkah. Ia tidak langsung pulang. Tapi melanjutkan perjalanannya lagi.

Selain itu, lanjut Suhra, ada beberapa faktor penting dari kesuksesan perjalanan Ibnu Batutah. Di antaranya adalah tersedianya fasilitas bagi para musafir pada masa itu. Fasilitas yang dimaksud adalah akomodasi yang diberikan secara cuma-cuma oleh masyarakat muslim selama tiga hari kepada orang-orang musafir.

“Hal ini sebenarnya merupakan bagian dari ajaran islam, dan telah menjadi tradisi masyarakat muslim ketika itu,” kata Suhra.

Lalu, kemampuan Ibnu Batutah dalam berkomunikasi dan memahami tradisi masyarakat yang dikunjungi. Karena kemampuan inilah, akhirnya Ibnu Batutah mampu berbaur dengan masyarakat dan bertemu dengan para penguasa di setiap negeri yang dikunjungi.

“Perjalanan dari Ibnu Batutah juga cukup menjelaskan, bahwa agama islam telah menyentuh hampir seluruh negeri-negeri klasik. Mulai dari Asia sampai Eropa,” ucap Suhra.