Prodi Pendidikan Dokter Hewan Unsyiah Gelar Workshop Virtual Merdeka Belajar Kampus Merdeka

14.09.2020 Humas

Program Studi Pendidikan Dokter Hewan Fakultas Kedokteran Hewab (FKH) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menyelenggarakan Workshop Virtual Merdeka Belajar, Kampus Merdeka (MBKM), Jum’at (11/9)

Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Ir Marwan. Dalam sambutannya, Marwan mengapresiasi FKH atas terlaksananya kegiatan workshop ini. Marwan berharap agar kegiatan dapat menyeragamkan persepsi terutama dalam menyusun kurikulum proses belajar mengajar berbasis merdeka belajar antar program studi. Workshop ini juga diharapkan bisa membahas tentang hibah merdeka belajar, dimana FKH menjadi satu dari dua program studi di Unsyiah yang berhasil mendapatkan hibah MBKM.

Menurut Marwan, selama ini proses pelaksanaan akademik di FKH sudah sangat baik, hanya butuh peningkatan dari pendidikan profesi. Terakhir, Marwan juga mengucapkan terimakasih kepada para narasumber yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini. 

Narasumber pada acara ini adalah Prof. drh. Aris Junaidi, Ph.D. Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdikbud RI. Aris menjelaskan seputar kebijakan tentang implementasi MBKM di perguruan tinggi. Dalam program Kurikulum Perguruan Tinggi Menjadi Model Center of Excellence (COE) ini ada 2 skema dengan output yang berbeda-beda untuk setiap skema yang diikuti. Kegiatan MBKM ini mengacu kepada standar pendidikan mengacu pada Permendikbud No. 3 Tahun 2020. Prof.

Aris juga mengungapkan setiap kegiatan ini sangat tergantung pada kebijakan perguruan tinggi masing-masing. Siklus penyusunan kurikulum pendidikan tinggi harus memuat beberapa unsur sebagai berikut:-          Program studi melakukan analisis yang meliputi menetapkan visi misi, landasan kurikulum dan tujuan pendidikan.

-  Perancangan meliputi Capaian pembelajaran, bahan kajian, pengalaman belajar dan penilaian.

-  Pengembangan yang meliputi menjabarkan CPL-Prodi pada tingkat mata kuliah menjadi CPMK, sub-CPMK dan tahapan pembelajaran lebih spesifik.

-  Pelaksanaan yang meliputi mengidentifikasi kemungkinan yang menghambat implementasi kurikulum, melakukan sosialisasi, workshop dan melaksanakan kurikulum.

-  Evaluasi yang terdiri dari evaluasi Formal dan evaluasi sumatif terhadap implementasi kurikulum.

Terakhir, Aris menyampaikan bahwa penyesuaian sistem penjaminan mutu mengacu pada permendikbud terbaru yaitu Standar pendidikan mengacu pada permendikbud No. 3 Tahun 2020 dan Akreditasi mengacu pada Permendikbud No. 5 Tahun 2020.

Narasumber kedua, Prof. Dr. Drh. Srihadi Agungpriyono, PAVet(K), Dipl.ACCM Dekan Fakultas Kedokteran Hewan IPB dan juga Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia (AFKHI). Beliau menjelaskan tentang bagaimana cara mengembangkan pendidikan Merdeka Belajar kampus merdeka khususnya di program studi kedokteran hewan. Dalam paparan nya juga diharapakan agar kita bersama-sama belajar tentang mindset MBKM tersebut. Reorientasi bukan hanya sekedar merdeka belajar, antara mindset dan skill yang diberikan harus saling melengkapi dan perlu dikemas dengan kurikulum.

Narasumber terakhir yaitu  drh. Teuku Reza Ferasyi, M.Sc., Ph.D dekan FKH Unsyiah menjelaskan tentang prsiapan rancangan kurikulum program merdeka belajar kampus merdeka FKH Unsyiah. Merdeka belajar memberikan kebebasan kepada mahasiswa dan dosen dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Hak belajar di luar program studi selama 3 semester. Pemetaan mata kuliah di tingkat program studi dalam lingkup Unsyiah serta pembelajaran di program studi yang sama dan perguruan tinggi yang berbeda

Sesi akhir dari kegiatan ini adalah sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan penting yang sempat ditanyakan oleh peserta terkait sistem pembiayaan terhadap program studi dari luar dan aplikasi program merdeka belajar yang melibatkan kerjasama antar program studi dan pendidikan tinggi memerlukan MOU. Lalu bagaimana ketentuan penyusunan MOU tersebut.

Menjawab pertanyaan tersebut, Prof Aris mengatakan, pembayaran diharapkan melalui konsorsium antara perguruan tinggi, sehingga bisa menyepakati biaya dan pengakuan mata kuliah yang bersifat angka kredit. Kemudian draf MOU tidak ada format khusus, sehingga bisa digunakan format masing-masing perguruan tinggi.

Selain itu jga ada peserta yang mempertanyakan tentang adanya anggapan lulusan dari program studi tidak siap pakai, lalu bagaimana kurikulum MBKM melihat ini. Menurut Prof. Yoni, kita harus sama-sama mencermati dan intropeksi dalam peningkatan soft skill dan peningkatan talenta. Sehingga setiap perguruan tinggi memiliki mahasiswa yang berpotensi diterima di setiap perguruan tinggi.

Kemudian, tambahnya, tidak semua program studi harus menerima atau mengirim mahasiswa dari luar. Tetapi program studi tersebut bisa memilih salah satu unggulan dari 8 program yang ditawarkan dalam program MBKM. Masing-masing program studi dapat mengajukan programnya. Kerja sama dengan universitas Luar Negeri dapat dilakukan dengan pertukaran pelajar.

Workshop ini diikuti peserta sebanyak 93 orang termasuk didalamnya stake holder yang akan dijadikan sebagai mitra dalam program MBKM ini antara lain ketua alumni FKH Unsyiah, Prof. Dr. Adlim, kepala LP3M Unsyiah, kepala BPTU Indrapuri, Head of PT Indojaya Agrinusa, Para dekan yang tergabung dalam AFKHI dimana pada kegiatan ini yang hadir yaitu Dekan FKH Unair, Dekan FKH UB, Dekan Universitas Pendidikan Mndalika, Dekan FKH Wijaya Kusuma Surabaya, Dekan FKH  UNHAS, Ketua prodi Agribisnis STIESIA Surabaya, Prodi THP Pertanian dan Ilmu Kelautan (FKP) Unsyiah, serta staf pengajar FKH Unsyiah.