Puluhan Akademisi Kesehatan Bahas Ancaman Global Resistansi Antibiotik

25.03.2019 Humas

Puluhan akademisi dan profesional kesehatan berkumpul di Aula Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala (FKH Unsyiah), Sabtu (23/3) membahas ancaman global resistansi antibiotik atau antimicroba resistence (AMR) di Indonesia. Kegiatan ini melibatkan Kementerian Pertanian (Kementan) RI dan Food and Agriculutre Organization (FAO) Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan RI, Drh. Syamsul Ma’arif, MSi mengatakan, di tahun 2014, tercatat 700 ribu jiwa telah terenggut akibat penyalahgunaan antibiotik. Salah satunya penyebabnya karena konsumsi antibiotik yang tidak tuntas. Hal ini berakibat buruk karena dapat membuat bakteri penyakit di dalam tubuh semakin kuat.

Menurutnya jika hal ini tidak dikendalikan, WHO memperkirakan korban akibat AMR akan terus meningkat hingga mencapai 10 juta jiwa pada tahun 2050. Bahkan, ancaman ini lebih besar dari kematian akibat penyakit kanker. Syamsul menyayangkan bahaya AMR yang menjadi ancaman global ini belum dipahami baik oleh masyarakat.

“Penggunaan antibiotik sangat penting dalam penanganan penyakit, tetapi jika tidak digunakan secara tepat dan tidak sesuai aturan, dapat berdampak buruk bagi kesehatan,” ujarnya.

Untuk itu menurut Syamsul, dibutuhkan sebuah pendekatan yang dapat mencegah dan mengontrol ancaman AMR. Salah satunya dengan pendekatan one health yang melibatkan berbagai elemen terkait di bidang kesehatan manusia dan hewan.

Gunawan Budi Utomo, National Technical Advisor FAO ECTAD Indonesia, menegaskan bahwa AMR adalah masalah global dan sangat penting untuk melibatkan lintas sektor dalam pencegahannya. FAO Indonesia terus mendukung upaya pengendaliannya melalui pendekatan one health. Pendekatan ini fokus pada pencegahan AMR dan kontrol penggunaan antibiotik agar digunakan secara bijaksana.

“Prinsip dari one health approach ini adalah bekerja secara serentak. One health mengutamakan komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi, khususnya pada sektor kesehatan hewan dan kesehatan manusia,” ujar Gunawan.

Dr. Muhammad Hambal, Dekan FKH Unsyiah, menganggap isu ini sebagai salah satu tanggung jawab perguruan tinggi, khususnya yang bergerak di bidang kesehatan manusia dan hewan. FKH Unsyiah juga siap bekerja sama dengan berbagai pihak untuk membantu meminimalisir ancaman AMR di Indonesia.

“Kita akan memasukkan konsep antimikroba ke dalam kurikulum FKH di seluruh Indonesia, sehingga penggunaan antibiotik secara bijaksana dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Hambal juga menambahkan beberapa akademisi FKH Unsyiah juga tengah melakukan penelitian tentang resistansi antibiotik pada hewan dan manusia, serta mencari solusi alternatif melalui penelitian biomolekuler bersama fakultas terkait. Ia juga mengapresiasi kehadiran One Health Collaborating Center (OHCC) atau Pusat Kajian One Health di Unsyiah yang dapat mengoptimalkan koordinasi dan kerja sama antar pihak terkait, khususnya di Aceh. (Humas Unsyiah/un)