Pusat Pengembangan HKI USK Sosialisasikan SIMHKI

07.04.2021 Humas

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Syiah Kuala melalui Pusat Pengembangan Hak Kekayaan Intlektual (HKI), menggelar sosialisasi Sistem Informasi Manajemen Hak Kekayaan Intelektual (SIMHKI) secara daring untuk para dosen atau peneliti di lingkungan USK. (Banda Aceh, 7 April 2021).

Adapun yang menjadi pemateri kegiatan ini adalah Kepala Pusat Pengembangan HKI USK Dr. Akhyar, M.Eng., IPM dan Staf Unit Pelayanan Teknis Teknologi Informasi dan Komunikasi (UPT TIK) USK Muhammad Chaidir, S.Kom, serta dimoderatori oleh Dosen Fakultas Hukum USK Dr. Sri Walny Rahayu, S.H., M.Hum.

Ketua LPPM USK Prof. Dr. Taufik F Abidin, S.Si.,M.Tech dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini merupakan webinar series kedua yang dilaksanakan oleh Pusat Pengembangan HKI USK. Menurutnya, kegiatan ini sangat penting karena merupakan upaya USK untuk meningkatkan pelayanannya yang berbasis teknologi informasi.

“Karena SIMHKI ini adalah sistem baru yang akan hadir di USK dalam rangka pengusulan HKI,” ucap Prof. Taufik.

Taufik menilai, HKI adalah komponen penting baik terkait luaran penelitian maupun dalam konteksi indikator kinerja USK. Namun selama ini semua proses pengajuan HKI ini masih secara manual, sehingga cukup merepotkan para dosen atau peneliti USK untuk pengusulannya.

“Maka hari ini kita akan mengubah hal tersebut sehingga proses pengajuannya bisa dilakukan secara online dari tempat masing-masing yang dibantu PP HKI USK,”ucapnya.

Wakil Rektor I USK Prof. Dr. Ir. Marwan dalam sambutannya saat membuka acara ini mengatakan, HKI ini telah lama di USK namun seiring waktu terjadi dinamika sehingga perkembangannya tidak terlalu signifikan.

Untuk itulah, saat ini HKI menjadi konsen USK. Sebab selama ini ada begitu banyak kegiatan penelitian maupun pengabdian USK, baik melalui publikasi, konferensi maupun jurnal. Semua kegiatan ilmiah tersebut merupakan hasil pemikiran dosen USK yang melahirkan berbagai inovasi/

“Nah kunci kita masuk ke dunia inovasi ini, bahwa produk kita perlu dilindungi dulu. Perlu terdaftar oleh payung hukum sebelum lepas ke masyarakat, sehingga nanti tidak disalahgunakan,” ucap Prof. Marwan.

Untuk itulah, Prof. Marwan berharap dengan adanya sistem informasi ini para dosen USK bisa mengusulkan HKI-nya secara lebih mudah, sehingga bisa semakin bersemangat untuk menghakikan karyanya.

Sementara itu, Akhyar mengungkapkan, saat ini sudah ada 286 buah HKI USK yang terdaftar. Jumlah tersebut terdiri dari paten dan hak cipta. Meskipun demikian, Akhyar menyakini, masih banyak HKI lain dari dosen USK yang belum ter-record oleh Pusat Pengembangan HKI USK.

“Maka kami harap, bagi bapak dan ibu yang ada mendaftarkan HKI secara personal  ataupun melalui konsultan HKI, untuk bisa mengunggah data tersebut. Sehingga data ini bisa kita record  dan monitoring ke Dirjen HKI Kemenkumham,”pungkasnya.