Rektor USK: Inovasi Kunci Indonesia Maju

18.08.2021 Humas

Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng, IPU mengatakan, inovasi adalah kunci bagi Indonesia untuk menjadi negara maju. Hal ini disampaikan saat menjadi salah satu narasumber pada talkshow 17 Agustus via Zoom, Selasa (17/8).

Kegiatan ini mengangkat teman "Gotong Royong untuk Inovasi Indonesia". Universitas Balikpapan bertindak sebagai tuan rumah. Dalam kesempatan tersebut, Rektor USK menyampaikan, agar Indonesia menjadi negara yang inovatif hal utama yang musti dilakukan adalah peningkatan alokasi dana riset.

"Setidaknya, dua persen dari dari GDP (Gross Domestic Products). Meskipun tidak mudah, tapi kita percaya pelan-pelan pasti bisa," ucap Prof Samsul Rizal.

Selain itu, ia menilai, pentingnya memperkuat kolaborasi riset dengan negara-negara inovatif, tumbuhkan pusat-pusat studi riset, hingga pengembangan kurikulum berbasis riset di tingkat SMAA dan PT.

"Idealnya, setiap universitas punya keleluasaan untuk mengembangkan kurikulum sendiri, yang dianggap penting. Tanpa harus semuanya terpaku pada satu acuan," kata Rektor.

Dengan begitu, Prof Samsul Rizal percaya, Indonesia bisa lebih cepat menjadi negara maju dan sejahtera. Inovasi tidak akan tumbuh, bila tanpa dukungan, terutama di sektor penelitian. Dicontohkan, dulu ia pernah bekerja di salah satu perusahaan di Jepang dan mendapatkan sesuatu hal yang luar biasa.

"Saya menemukan sesuatu hal yang luar biasa. Perusahaan Jepang, per minggunya, mereka selalu saja ada inovasi baru," jelasnya.

Tak lupa, Rektor USK turut berefleksi terhadap kenyataan bahwa sejak 2013, ranking Indonesia di Global Innovation Index (GII) tidak banyak beranjak di sekitar ranking 80-an sampai 90-an. Tahun 2021 masih di peringkat 85.

"Negara-negara tetangga (ASEAN) yang awalnya rangkingnya tak beda jauh dengan Indonesia, saat ini jauh melesat, Vietnam peringkat 42, Filipina 50.

Indonesia di ASEAN, hanya lebih baik dari Cambodia dan Myanmar di barisan paling bawah," ungkap Rektor USK.

Untuk itu, ia mengajak semua pihak untuk lebih memberikan perhatian kongkrit terhadap dunia penelitian. Terutama soal prioritas pendanaan. Prof Samsul Rizal berpandangan, penelitian yang tayang di jurnal saja tidak cukup, tanpa adanya inovasi.

"Hari-hari terakhir jurnal kita memang lebih banyak dari Malaysia dan Singapura, tapi inovasi kita masih kalah," jelang Prof Samsul Rizal.

Salah satu hal yang paling krusial saat ini, disampaikannya adalah, adanya jarak antara universitas dengan swasta. Belum terkoneksi dengan baik kedua elemen tersebut, merupakan PR sekaligus tantangan bersama, yang musti segera direkatkan.

Terakhir, Prof Samsul Rizal mengingatkan, tanpa inovasi, Indonesia akan sulit memanen ataupun memanfaatkan momentum bonus demografi yang sudah di depan mata.

"Kalau sampai tahun 2035 kita gak bisa memanfaatkan bonus demografi, maka kita tidak akan pernah masuk ke negara maju," tutupnya.

Pada talkshow tersebut menghadirkan 9 narasumber. Tiga diantaranya yaitu, Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Dr. Ir. Heru Dewanto, ST., M.Sc.(Eng.), IPU., ASEAN Eng, Rektor Universitas Gajah Mada sekaligus Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI), Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU ASEAN Eng, serta Rektor Universitas Sriwijaya, Prof. Dr. Ir. H. Anis Saggaff, MSCE, IPU, dkk.