TDRMC Unsyiah Terima Hibah Riset Global Challenge Research Fund (GCRF) dari UK Research and Innovation

25.11.2020 Humas

Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana (TDMRC) Universitas Syiah Kuala bersama University College London memperoleh dana hibah penelitian dari UK Research and Innovation (UKRI) melalui program bergengsi Global Challenges Research Fund (GCRF) Equitable Resilience, untuk melakukan sebuah penelitian berjudul:  “Fostering Resilient Recovery in Marginal Communities via School-based Hubs”. (Banda Aceh, 25 November 2020).

Ketua TDMRC Unsyiah Dr. Khairul Munadi menjelaskan, proyek penelitian ini merupakan satu dari 140 proyek yang diberikan hibah dari 18 pengumuman penerimaan proposal UKRI GCRF Collective Program.

“Di mana hibah ini dirancang untuk meningkatkan dampak menyeluruh di enam portofolio GCRF Challenge dalam kesehatan global, pendidikan, kota berkelanjutan, sistem pangan, konflik, dan ketahanan,” ucapnya.

Khairul Munadi mengungkapkan, GCRF adalah dana senilai £ 1,5 miliar yang dialokasikan untuk  mendukung penelitian dan inovasi termutakhir, guna memecahkan isu global yang dihadapi oleh negara-negara berkembang. GCRF juga merupakan bagian dari komitmen Bantuan Pembangunan Resmi Pemerintah Inggris Raya.

Proyek yang mendapatkan dana hibah ini merupakan hasil kemitraan antara lembaga EPICentre UCL (Earthquake and People Interaction Center), EFID Center UCL (Engineering for International Development) TDMRC di Banda Aceh, dan Universitas Tadulako di Palu.

“Proyek penelitian ini dipimpin oleh Prof. Helene Joffe dari UCL dan Dr. Ella Meilianda dari TDMRC Unsyiah,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga menjelaskan, proyek penelitian ini akan berlangsung selama tiga tahun dan menjadi peluang bagi pihak Unsyiah untuk memperluas kolaborasinya dengan Universitas Tadulako dalam rangka Tripartit Capacity Building for Disaster-Prone University Partnerships, yang telah disahkan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia sejak 2018.

“Sebagai lembaga riset terapan multidisiplin, TDMRC telah banyak berperan dalam mempromosikan dan menyebarluaskan hasil penelitian ilmiah yang lebih baik, tentang pengurangan risiko bencana di Indonesia dan di beberapa negara Asia yang rawan bencana,” jelasnya.

Terwujudnya lembaga ini, lanjut Khairul Munadi, merupakan bentuk respon dari pemerintah dan universitas terhadap bencana gempa dan tsunami tahun 2004 yang melanda Samudera Hindia. TDMRC mempunyai motto, yakni; "Communicating Science, Enhancing Resilience ".

Dr. Ella Meilianda, peneliti dan manajer program di TDMRC, sebelumnya pernah memimpin tim TDMRC dalam bekerja sama dengan kampus UCL melalui proyek penelitian di bawah Skema Newton Fund dari British Council. Selain itu beliau pernah mengkoordinatori 3 tim rombongan peneliti asing, salah satunya adalah Tim Investigasi Lapangan Teknik Gempa Bumi (EEFIT) Inggris, untuk melakukan asesmen lapangan pasca-bencana di Sulawesi Tengah pada November 2018.

Proyek penelitian "School-Hubs" ini bertujuan untuk mendorong pemulihan ketahanan masyarakat terdampak bencana di Palu, Sulawesi Tengah, akibat gempa bumi dan tsunami pada 28 September 2018 melalui rehabilitasi dan rekonstruksi berbasis sekolah.

Tim interdisipliner dari akademisi dan praktisi LSM dari Inggris dan Indonesia akan bersama-sama mengembangkan intervensi yang mengintegrasikan dukungan psiko-sosial bencana, ketersediaan infrastruktur dan sanitasi lingkungan sekolah sebagai pusat kesiapsiagaan dan pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi bencana.

 Intervensi multi-disiplin ini diharapkan dapat berkontribusi dalam upaya meningkatkan resiliensi masyarakat terhadap bencana.