Tim Ekspedisi Puteri 'Inong Metalik' USK Sukses Daki Puncak Tertinggi Burni Arul Relem di Gayo Lues

09.09.2021 Humas

Tim Ekspedisi  Puteri yang tergabung dalam "Tim Inong Metalik" Mahasiswa Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup Metalik (PA-LH Metalik) Fakultas Ekononi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (USK) yang berhasil menapaki puncak tertinggi Burni Arul Relem di Kabupaten Gayo Lues. Gunung Burni Arul Relem memiliki ketinggian 2019 meter dari permukaan laut (MDPL). Menariknya, gunung ini merupakan salah satu gunung yang belum terjamah oleh pegiat alam bebas.

Tim Inong Metalik yang berjumlah delapan personil ini berhasil menapaki puncak tertinggi arul relem pada Jumat, 3 September 2021, sekitar pukul 11.05 WIB. Ketua Tim Ekspedisi Inong Metalik, Putri Balqis menyebutkan, Tim Inong Metalik bertolak dari Banda Aceh jumat lalu 27 Agustus 2021. Lalu tim mulai melakukan perjalanan dari pintu rimba pada tanggal 29 Agustus 2021.

“Untuk perjalanan, kami pure mengandalkan kemampuan navigasi kami sendiri, tidak meminta panduan dari penduduk sekitar”,  kata Putri.

Putri juga mengatakan, sebenarnya ekspedisi ini sudah direncanakan sejak tahun 2019. Namun ditunda karena pandemi covid-19. Pada Juni 2021 mereka berdiskusi kembali dan akhirnya membentuk kepanitiaan pada 9 Juni 2021, dan akhirnya berangkat pada 27 Agustus 2021.

Selama perjalanan, tim inong Metalik yang didominasi kaum hawa ini menemukan keragaman hayati yang biasa ditemukan di hutan hujan tropis. Temuan-temuan selama perjalanan tercatat dengan rapi dalam jurnal pendakian dan dokumentasi foto oleh tim pendakian. Tim Inong Metalik di inisiasi oleh para Perempuan anggota Metalik sekitar tiga bulan lalu. Berbeda dari biasanya, sejak awal proses perencanaan hingga pelaksanaan teknis pendakian ini dipimpin oleh perempuan. Namun untuk keperluan teknis logistik pendakian, tim juga merekrut tiga anggota putra yang juga merupakan anggota Metalik.

Selain pendakian, tim juga melakukan penelitian tentang Pengaruh Hutan Adat terhadap Perekonomian masyarakat. Penelitian ini bertujuan melihat sejauh mana masyarakat mendayagunakan hasil hutan non kayu secara berkelanjutan. Pasca pendakian, tim akan melaporkan hasil kegiatan dalam bentuk seminar, laporan pendakian, laporan penelitian, dan foto essai.

Meskipun kegiatan pendakian gunung identik dengan kaum laki-laki, namun tim Inong Metalik telah membuktikan, jika memiliki niat dan kemauan yang kuat, perempuan juga bisa melakukan kegiatan di alam bebas ini secara mandiri.

“UKM Metalik memberikan ruang bagi kaum perempuan untuk mencatat prestasi prestisius dalam pendakin pembukaan jalur. Diharapkan tim ini mampu menginspirasi para mahasiswi untuk mengaktualisasikan diri sesuai dengan minat dan bakat masing-masing”, tutup Putri.