USK Jalin Kerjasama dengan Malem Putra

02.10.2021 Humas

Universitas Syiah Kuala (USK) melakukan kerjasama dengan Yayasan Malem Putra (YPM). Kerjasama ini ditandai dengan penandatanganan MoU secara daring. USK ditandatangani oleh Rektor, Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng., IPU., ASEAN.Eng, sedangkan YPM ditandatangani Ketua Umum, Dr. Ir. Mustafa Abubakar M.S beserta Dewan Pembina, Dr. Sofyan A. Djalil, S.H., M.A., M.ALD yang juga Menteri ATR/Kepala BPN. (Jumat 1 Oktober 2021).

Ketua Umum YPM, Mustafa Abubakar mengatakan, MoU tersebut terasa spesial sebab terlaksana di hari yang penuh berkah, jumat. Di waktu yang bersamaan, 1 Oktober merupakan hari kesaktian Pancasila. Ia mengatakan, ide kerjasama tersebut lahir secara spontan saat reuni pada bulan lalu.

"Alhamdulillah setelah reuni tersebut segera diproses. Untuk tahap kedua dan selanjutnya segera menyusul. Ini juga torehan sejarah bagi YPM, sebab bekerjasama bukan hanya dengan USK, tetapi juga dengan UIN Ar-Raniry dan Universitas Teuku Umar (UTU)," kata mantan Menteri BUMN itu.

Kerjasama tersebut semata-mata hanya untuk memajukan Aceh, lewat pendidikan. Terutama pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Mustafa mengatakan, kerjasama yang terjalin ini merupakan peluang sekaligus tantangan bagi pihak yang terlibat, untuk mengimplementasikan secara berkelanjutan.

"Kerjasama ini mencakup pengejawatahan dari Tri Dharma perguruan tinggi, utamanya akan difokuskan pada prodi unggulan. Kita perlu saling kolaborasi seluas-luasnya demi kemajuan Aceh. Tujuan hanya satu, mendukung pembangunan Aceh ke arah yang lebih baik," jelasnya.

Rektor USK, Prof Samsul Rizal menyambut baik kerjasama dengan YPM demi kemajuan pembangunan SDM Aceh. Apalagi saat ini Lembaga Pendidikan Tinggi di Aceh, dalam duka. Banyak sekali Guru Besar, pemilik gelas Dr (S-3), pemilik gelar MS, M.Pd, M.Si, M.Sc, M.Eng dan lain-lain gelar untuk S2 dan diploma, telah syahid dalam Pandemi Covid-19 dengan berbagai variannya.

USK adalah penerima musibah terbanyak diantara semua kampus negeri dan swasta yang ada di Aceh.  Sekarang ini, kehilangan mereka telah dan akan sangat mempengaruhi akreditas PTN dan PTS di Aceh karena: Bobot Akademik, Riset dan Pengabdian Pada Masyarakat.

Akreditasi PTN/PTS di seluruh Aceh sangat tergantung pada keberadaan pemegang gelar-gelar tersebut di atas. Diperlukan waktu yang cukup lama untuk merekrut calon yang kompetitif, untuk melatih mereka di berbagai perguruan tinggi ternama di dalam dan luar negeri, dan diperlukan dana yang besar untuk membiayai pendidikan dan pelatihan mereka, sehingga mereka tampil dengan penuh percaya diri dalam forum dalam negeri dan luar negeri.

"Kehilangan mereka akan sangat mempengaruhi akreditas dan memerlukan waktu lama untuk menggantikannya," tutur Rektor USK.

Untuk itu, kehadiran dan kerjasama dengan YPM di situasi begini dapat memberikan dampak yang besar, sekaligus peluang mempersiapkan generasi pengganti.  Prof Samsul Rizal menyampaikan, hari ini YMP hadir kembali. Walaupun kantornya sudah pindah ke Jakarta, tapi keberadaannya bisa dirasakan oleh masyarakat Aceh.

Rektor mengungkapkan, dirinya telah berdiskusi dengan Qismullah Yusuf dan Agussabti (Ketua & Wakil Ketua YMP Aceh), para wakil rektor, dekan maupun wakil dekan, serta petinggi lain di tingkat universitas dan fakultas untuk menyusun kerangka pembiayaan bersama antara YMP dan PTS/PTN.

"Kami mengusulkan agar kita dapat menyusun Splite-site program antara USK, Malem Putra dan Universitas Penyelenggara di dalam dan luar negeri untuk mengadakan joint-program untuk jenjang S-3, sebagaimana yang sedang kami sedang laksanakan dengan Universiti Malaya, Universiti Kebangsaam Malaysia, Universiti Pendidikan Sultan Idris, University of Rhode Island, University Technology of Sydney, Deakin University dan Kementrian Pendidikan Tinggi Taiwan," usul Rektor USK.

USK juga berkenan untuk menghubungi beberapa lembaga asing, untuk mendatangkan tenaga pengajar Bahasa Inggris (native speaker) dari luar negeri untuk mengabdi di USK dan akan ditempati di YMP di Porgram Pre-Departure dalam rangka pengembangan potensi bahasa dan komunikasinya, apalagi untuk penulisan karya ilmiah.

Sementara itu, YMP dapat menandatangani MoU khusus dengan universitas ternama di Indonesia dan luar negeri dengan bekerjasama dengan USK. Mareka akan lulus sebagai siswa SMA Lab School ini dan diterima sebagai mahasiswa melalui jalur khusus/MOU/MoA antara Lab School USK dengan berbagai universitas di dalam dan luar negeri.

"Saya menyarankan agar YMP bekerjasama juga dengan Pemda di kabupaten/kota untuk kesuksesan dan pemerataan untuk semua rakyat di provinsi ini," tutup Prof Samsul Rizal.

Sementara itu, Dewan Pembina YPM, Sofyan Djalil mengaku optimis, kerjasama antara YPM dengan USK, UIN Ar-Raniry dan UTU berkontribusi positif terhadap masa depan Aceh yang cemerlang.

"Ini merupakan cita-cita besar, dan cita-cita besar adalah doa. Oleh sebab itu, supaya YPM bisa berkontribusi mengembangkan  SDM di Aceh, kita perlu kerja cerdas," sebut Menteri ATR kelahiran Aceh Timur tersebut.

Hanya saja, Sofyan Djalil menggarisbawahi, butuh spesifikasi khusus dalam implementasi kerjasama tersebut. Pendidikan Aceh butuh fokus pada beberapa bagian, idealnya dua atau tiga saja, agar tujuan dari kerjasama bisa berdampak signifikan.

"Kita harus cari ceruk pasar apa yang bisa memberikan impact yang paling besar. Tidak optimal bila semua hal digarap. MoU hari ini perlu diskusi lebih lanjut, ceruk pasar apa yang akan kita tangani," jelasnya.