USK Pantau Kondisi Kesehatan Amelia

03.08.2021 Humas

Universitas Syiah Kuala mengirimkan Tim untuk melihat kondisi kesehatan mahasiswa USK Amelia Wulandari, yang dikabarkan lumpuh usai vaksinasi Covid-19 di Akademi Keperawatan (Akper) di Suak Ribee, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh. 

Kepala Biro Kemahasiswaan Dr. drh. Mustafa Sabri, M.P yang memimpin rombongan ini mengungkapkan, kunjungan ini adalah bentuk kepedulian USK terhadap mahasiswanya. Mustafa mengakui, USK telah mewajibkan vaksinasi kepada mahasiswanya. 

Hanya saja, bagi mahasiswa yang tidak dapat melakukan vaksin Covid-19 karena alasan kesehatan atau baru terkena Covid-19 dalam tiga bulan terakhir, maka mahasiswa tersebut cukup menunjukan surat keterangan dari Puskesmas atau RSP USK.

Bahkan, jika mahasiswa tersebut berada di daerah yang belum ada kegiatan vaksinasi bagi usia 12 – 18 tahun. Maka, ia dapat membuat surat pernyataan yang ditandatangani oleh orang tuanya. Selanjutnya, mahasiswa tersebut dapat melaksanakan vaksin saat di Banda Aceh yaitu di RSP USK.

“Untuk itulah, dalam kunjungan ini kami ingin memastikan bagaimana kondisi sebenarnya Amelia,” ucap Mustafa.

Dalam kunjungan tersebut, pihak keluarga yaitu ibunya juga menjelaskan saat ini kondisi Amelia sudah membaik. Adapun pemberitaan yang mengabarkan anaknya lumpuh, ia mengungkapkan bukan dari dirinya. 

“Saya memang gak menyuruh wartawan, cuma adek saya itu kesel lihat keadaan dia ini. Jadi dialah yang ngomong, saya gak ngomong. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa, saya cuma mohon anak saya sembuh,” ucap Ibunya.

Selain itu, Dr. dr. Safrizal Rahman, M.KEs., Sp.OT  dari Tim Satgas Covid-19 USK serta Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh, juga turut menjalin komunikasi dengan dokter yang merawat Amelia untuk memantau perkembangan kesehatannya. Di mana dalam dua terakhir ini trend pemulihan Amelia semakin membaik.

Dr. Safrizal mengungkapkan, apa yang terjadi pada Amelia kemungkinan besar karena faktor psikosomatik atau ketakutan yang berlebihan sehingga memicu dampak pada kesehatannya. Pasalnya, pada saat screening ia mengatakan punya penyakit asam lambung dan pernah tifus. 

“Semua keluhan itu, bukan termasuk kontra indikasi atau halangan untuk melakukan vaksin sehingga dilakukanlah vaksin,” ucap dr. Safrizal.

Berdasarkan screening inilah, dr. Safrizal menilai adanya dugaan kecemasan yang tinggi dari Amelia sehingga menaikan asam lambungnya, lalu mengeluhkan nyeri di ulu hati. Selanjutnya, kaki Amelia menjadi lemah sehingga dibawa ke rumah sakit.

“Namun setelah diamati tanda-tanda vitalnya secara ilmu kedokteran. Seperti tekanan darah, nadi, dan pernafasan itu normal-normal saja. Ketika diajak bicara juga normal,” ucapnya.

Di rumah sakit, Amelia mendapatkan terapi secara medis dan saat ini kondisi pemulihan kakinya sudah terjadi peningkatan. Di mana awalnya, kaki mahasiswa Fakultas Hukum USK ini  tidak bisa diangkat namun sekarang sudah bisa. 

“Kontrol terbaru kita tadi, insyaAllah, besok sudah mulai dilatih berdiri untuk berjalan lagi,” ucapnya.

Dr. Safrizal, menegaskan apa yang terjadi pada Amelia ini tidak bisa serta menyerta disimpulkan dampak dari vaksin. Sebab saat ini sudah lebih 20 juta orang di Indonesia yang sudah divaksin. Kondisi akibat psikosomatik seperti ini juga sudah beberapa kali dilaporkan. 

“Bahkan ada yang mengeluhkan lumpuh dan sebagainya, tapi tidak ada yang fatal hanya perlu dirawat. Artinya, ini hanya perlu kesiapan mental kita ketika divaksin, karena keluhan yang timbul berkaitan dengan psikosomatik saja,” pungkasnya.